PERGIJAUH

PERGIJAUH

Tolong

Mungkin ada yang sependapat sama gue, kata-kata seperti maaf atau sorry adalah kata yang sebisa mungkin dihindari untuk diucapkan, bukan karena kita enggak tau etika karena enggak mau minta maaf atau takut berbuat salah, tapi ini lebih ke sikap supaya enggak ngegampangin kata maaf. Selain itu, ada satu kata krusial yang juga gue hindari, yaitu “tolong”.

Ketika kita mengucapkan kata tolong, itu berarti kita mengharapkan effort orang lain untuk kepentingan kita. Meminta waktu, tenaga bahkan pikiran orang lain karena kata tolong yang keluar dari mulut kita, yang pada akhirnya, berujung ke satu fase yang membuat kebanyakan orang  jadi enggak enak, yaitu fase balas budi. Kita seperti berhutang, yang kalau enggak dilunasi akan menghantui pikiran kita…. selamanya. *genjreng kunci A Minor* *ceritanya agak serius*

Kata tolong itu seperti sebuah pengharapan dan kalau enggak sesuai track akan sangat kecewa. Contohnya adalah ketika gue berusaha benerin dashboard mobil, posisi dashboard ketika akan dibuka harus melepas stir mobil terlebih dahulu, dan di dalam dashboard ada tape/cd player yang lumayan berat, jadi ketika buka dashboard harus menahan tape tersebut agar kabel-kabelnya tidak rusak. Di depan gue ada tetangga kosan, yang dimana gue bisa aja meminta bantuan dia dan gue yakin dia dengan senang hati mau melakukannya, tapi gue lebih memilih menahan stir mobil dan tape tersebut dengan kedua lutut gue. Dengan dalih, enggak mau ngeribetin orang, meskipun guenya sendiri yang ribet menahan dengan posisi sirkus.

Atau menanyakan sesuatu barang yang sedang kita cari, misalnya spoiler mobil. Untuk barang yang sangat langka di pasaran dan susah mencarinya via forum jual beli lokal, mau enggak mau kita tanya-tanya sama anak komunitas lewat mulut ke mulut, meminta tolong teman kita untuk mencarikan barang tersebut, tapi dengan mencoba mengandalkan orang lain waktunya pasti akan tidak secepat yang kita mau, apalagi dengan kesibukan mereka yang mungkin kepentingan kita ya enggak penting-penting amat buat mereka. Akhirnya gue lebih memilih untuk hunting sendiri ke penjual onderdil bekas atau order via eBay, meskipun jatuhnya lebih mahal harganya, tapi gue puas.

Gue tipikal orang yang seperti itu, meminimaliskan kata tolong karena gue percaya sama kemampuan diri gue sendiri, mungkin karena paham DIY atau Do It Yourself yang gue kenal sejak SMA, mengajarkan gue untuk hidup mandiri. Tapi ternyata kalau kita telaah lagi, DIY itu bukan ngerjain sendiri benar-benar sendirian, tapi lebih bersifat kolektif. Dimana elo dan temen-temen lo mengerjakan sesuatu dengan dasar kebersamaan.

Dan gue sadar, gue terlalu keras terhadap diri gue sendiri, gue lupa kalo sifat dasar manusia adalah saling membutuhkan dimana gue tau gue memang memerlukan kata “tolong”. Karena kata tolong itu bersifat kekeluargaan, bonding session dengan orang-orang, bisa lebih memahami satu sama lain. Karena tolong itu ibarat curhat, ketika orang curhat kepada kita berarti orang itu percaya dengan kita, begitupun sebaliknya.

Jadi jangan ragu untuk meminta atau memberikan pertolongan, karena kita adalah manusia.

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 16image

Sinema-Sinema

Kalo denger Sinema-Sinema, pasti kita jadi teringat pada acara di salah satu televisi swasta yang berinisial “RCTI” pada era 90an, acara yang dipandu oleh Ira Wibowo dan Mayong Suryolaksono itu menyajikan sinopsis dan review singkat tentang film-film yang akan atau sedang beredar di bisokop-bioskop, meski tak setajam Rotten Tomatoes, seenggaknya kita pernah punya acara pembahasan film seperti ini. 

Gue seneng baca-baca review-review film dan selalu baca review dari banyak sumber dan gue pribadi enggak terlalu percaya ketika sebuah film dibilang bagus atau jelek, karena ya itu, namanya review kan cuma opini, sangat subyektif. Sering, sih, ketika ada orang yang bilang film A jelek, tapi pas gue tonton bagus, film B bagus tapi pas gue liat malah jelek banget. Makanya gue harus nonton film itu untuk ngebuktiin sendiri.

Semua orang butuh hiburan, dan film adalah mahakarya hiburan yang bisa memenuhi aspek pemanjaan audio dan visual. Untuk pemanjaan audio dan visual tersebut kita harus berterimakasih sama orang yang menemukan bioskop. Sound nendang dan layar besar bisa membuat kita duduk  manis manja group. Tapi enggak selamanya kita bisa duduk manis manja group di bioskop, karena seringkali kita terganggu ketika bertemu dengan orang-orang yang bisa membuat kegiatan nonton kita jadi enggak asik. Nah, inilah dia tipe-tipe orang-orang annoying itu:

Gerombolan anak muda sok rusuh. Masuk kebioskop ketika film sudah mulai, jalannya agak lama karena nyari bangku dan ngalingin layar, becanda-becanda dengan suara kenceng, pas duduk masih ceng-cengan. Mungkin tipikal orang seperti ini terinspirasi dari lagu Ramones “I Don’t Want to Grow Up”, bagus memang, ya tapi jangan pas film udah mulai kaleeeee.

Orang yang banyak nanya. Bayangin, di tengah film lo lagi tegang-tegangnya nonton Prometheus, menerka-menerka kira-kira tuhan itu seperti apa dan tiba-tiba terdengar suara dari sekitar kursi lo ada orang bertanya sama pacarnya “Beb, akuh enggak ngerti filmnya, maksudnya apa sih?” atau “Kok mereka nyari tuhan sih? Kan enggak boleh dalam agamaaaaaa”. Nyebelin, kan? Nah, yang lebih nyebelin lagi ketika orang yang ditanya malah ngejawab, bukan nyuruh diem yang bertanya.

Orang tidur. Oke, enggak dipungkiri, gue juga pernah tidur di dalem bioskop, sering malah, tapi lo pasti tau jenis tidur apa yang paling ganggu? Yup, betul, ngorok. Bayangin sekarang, lo lagi nonton film Hachiko, pas adegan sedih si anjing nunggu majikan yang tak kunjung datang, air mata lo tertahan di kantung mata, sebentar lagi akan keluar dan tiba-tiba terdengar suara “Ngookkkk, krookkkkkkkk grrrauukkkkkk” dengan irama hyperblast ala ketukan drum Death Metal.

Orang yang bawa makanan dengan aroma menyengat. Tempat jual makanan di dalam bioskop sepertinya sudah lumayan lengkap, tapi seringkali kita ngidam suatu makanan yang memang enggak dijual bioskop, meskipun enggak boleh sama pihak bioskop untuk bawa makanan dari luar, tetep aja kita pernah bandel, itulah fungsi dari tas cewek sebenarnya, untuk nyelundupin makanan dari luar :p. Kalo cuma minuman kemasan atau snacks sih enggak apa-apa, nah kalo bawa makanan macem nasi padang, duren atau cempedak?

Orang dengan handphone yang enggak disilent. Lupa silent handphone ketika berada di dalam bioskop mungkin lo pernah ngalamin begitupun juga gue, tapi kan yah sebagai manusia yang tepo seliro di dalam pelajaran PMP kita kan langsung silent handphone pas ada panggilan masuk, yang nyebelin adalah ketika ada orang yang membiarkan handphonenya bunyi terus, lebih nyebelin lagi kalo ringtonenya lagu Buka Sitik Joss dengan volume maksimal dan bakal lebih nyebelin lagi kalo panggilan masuknya malah dijawab.

Orang yang membawa bayi. Sepertinya kategori umur di dalam perbioskopan Indonesia enggak ngaruh-ngaruh amat. Masih banyak anak-anak dibawah umur yang bisa nonton film dewasa, menurut gue kontrol pertama yang paling ngaruh ada di diri kita sendiri, jangan deh bawa anak kecil untuk nonton film yang bukan kategori umurnya dan yang paling penting adalah pikir dua kali kalo bawa bayi. Oke, gue sadar di dalam masyarakat urban yang sibuk, seringkali para pasangan membawa bayinya untuk nonton dengan alasan di rumah enggak ada yang jaga, tapi kalo bayinya nangis di tengah-tengah film malah jadi ngeganggu penonton yang lain. Kontrol kedua, dari pihak bioskop, sepertinya pihak bioskop harus sesegera mungkin menyedian Cry Room/Crying Room seperti di bioskop luar negeri.

Orang pacaran. Bukan maksud gue untuk iri karena gue single, tapi kalo pacaran di dalem bioskop ya sepertinya bukan tempat yang nyaman. Sebatas pegangan tangan, pala nyender di bahu atau kecup kening masih enggak apa-apa lah, nah kalo udah cipokan mesra maen-maenin lidah, grepe-grepe bahkan sampe pala si cewek tiba-tiba ilang, itu jadi pemandangan ganggu sih. Biasanya para pasangan ganggu ini sengaja nyari film yang durasinya lama. Saran gue, get a room.

Kalo lo ketemu tipikal orang-orang yang seperti ini, hak lo untuk kasih tau ke mereka akan keenggaknyamanan lo, kalo masih ngeyel juga, telpon Chuck Norris.

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 15

image

Jadi setiap hari Senin, Rabu dan Jumat Drive n Jive 87,6 HardrockFM Jakarta ada namanya #DnJkustik (Khusus hari Rabu nyanyi lagu Indonesia) dimana itu adalah segmen yang ditunggu oleh kami (bukan kalian) karena kami bisa nyanyi dengan suara seadanya, a to the min. Amin.

DnJ Team:
Gofar Hilman (@pergijauh) sebagai penyanyi
Andira Pramanta (@andiraa)sebagai penggitar

Produser: Satya Kocil Permana (@satyaapermana)

Merdeka atau Mandi

Indonesia tahun ini berulang tahun ke 69, mengingatkan gue akan gaya tertentu, gaya merdeka maksudnya. Merdeka akan melakukan gaya 69, 69 tahun perayaan maksudnya, oke, sebentar lagi gue akan digampar editor Free! Magazine. *maap yak*. Jadi gini, ulang tahun kenegaraan biasanya identik dengan kata merdeka, dimana pada masa itu negara kita merdeka ‘colongan’, masa dimana penjajah lagi bengong, yang penting kan merdeka, kita kan bangsa situasionis, aji mumpung yang hebat, mari kibarkan bendera merah putih!

Bendera merah putih, merah artinya warna Path dan putih artinya awan Instagram dengan hashtag #InstaSky #NoFilter. Yang artinya lebih dalam lagi adalah, kebebasan dalam berekspresi di semua lini, termasuk lini masa. Setelah jaman orba, kita mempunyai semangat bersuara yang sangat tinggi, demo hampir setiap hari meskipun jumlah demonstran cuma 4 orang, tapi enggak apa-apa, yang penting ada bukti dokumentasi untuk diberikan kepada NGO luar, yah lumayan lah biar LSM enggak putus suntikan dana.

Merdeka di sosial media. Balik lagi ke tahapan ini, di sosial media kita menemukan kebebasan yang sangat bebas karena kita bisa menjadi apa saja dan siapa saja, bisa merubah karakter kita yang tadinya cupu menjadi rockstar, merubah santri menjadi badboy, merubah anak-anak playgroup menjadi playboy. Bebas ngetwit apa saja, mau ngomong jorok dan ngomong kasar juga bisa, tunaikan ibadah paham egosentris, dimana ketika ada orang yang ngebantah atau enggak suka akan twit lo dan lo akan ngomong “my twitter my rules” atau “kalo enggak suka, unfollow aja!” padahal kan kalimat itu berlaku sama dengan yang lain, “their twitters their rules”, mereka berhak ngomong apa aja termasuk bantah lo, tapi balik lagi, pihak pertama yang dibantah berhak juga bantah balik atau ngomong lagi, “my twitter my rules” atau “kalo enggak suka, unfollow aja!” begitu seterusnya dan seterusnya, yah bebas, namanya juga merdeka.

Merdeka untuk selfie. Mau banggain muka siapa lagi coba kalo bukan muka sendiri? Iyalah, makanya kita harus selfie. Coba sekarang lo selfie di jok mobil depan plus seatbelt terpasang dengan pose sok candid plus caption “huft macet :(”, atau selfie hashtag #OOTD dengan tas dan sepatu kawe Mangga Dua tapi merasa paling glam dan fashionista, bisa juga selfie di pantai dengan mengenakan bikini two-piece meskipun selulit melingkar di sekujur perut dan betis terdapat luka bakar bekas knalpot motor, atau juga selfie dengan bibir ditipis-tipisin dengan senyum ngelengkung menukik tajam plus mata disipit-sipitin yang niatnya kaya artis Korea tapi malah condong ke Korea Utara. Merdeka untuk ganti avatar Twitter dua hari sekali dengan hasil-hasil selfie tadi dengan bumbu tematik, bulan puasa beravatar kerudung, habis lebaran balik ke avatar nongolin belahan toket. Bebas! Namanya juga merdeka.

Merdeka dari kemacetan. Mau bebas dari kemacetan Jakarta? Gampang, jadi orang yang banyak duit, gue enggak ngomongin lo terbang naik helikopter, tapi tetap jalan di darat, cukup sewa patwal lengkap dengan voorrjider, dengan suara sirine yang ngeselin cukup membuat para penghuni jalan lainnya minggir sambil menggerutu. Voorijder patwal ini juga sangat penting untuk kawanan om-om Harley yang yang berlagak outlaw tapi di kawal polisi,OUTLAW TAPI DIKAWAL POLISI. Biasanya si om-om dan remaja spoiler brat ini merasa pride dengan dandanan yang (katanya) sangar memakai stocking tattoo di kedua lengan dan memakai atribut brand motornya dari ujung rambut sampai ujung kaki, tak lupa mereka mengajak pacar atau istrinya yang di dandanin serupa, ibu-ibu dipakein atribut  motor dari iket kepala kulit, rompi, boots, masker tengkorak, yang niat awal pengen jadi lady bikers tapi malah jadi penyanyi dangdut Neneng Anjarwati.  Bebas, kan kita bangsa merdeka.

Atau jikalau lo enggak bisa melakukan semua itu seperti yang tadi gue bilang, lo cukup melakukan aktivitas simpel, yaitu mandi. Karena mandi akan membuat tubuh kita tenang dan merdeka, nyalakan shower setengah panas dan dingin, keramas sambil berteriak “MERDEKAAA…AAA…AAA!” dengan efek gema memenuhi dinding kamar mandi, sabunan dengan gerakan super slow motion agar buliran air shower terlihat jelas dan fokus sabunan pada bagian tubuh tertentu sambil diiringi lagu Carless Whisper-nya George Michael.

MERDEKA!

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 14

Ngajak Check in

About

PERGIJAUH Follow Me at Twitter @pergijauh

Following

Top