PERGIJAUH

PERGIJAUH

Tanggal 9 Oktober adalah Hari Surat Menyurat Dunia,

maka itulah DnJ mengembalikan esensi komunikasi sesama manusia
yang gak bikin sensi, yaitu surat secara fisik.

Kirim surat lo dengan tulisan tangan ke penyiar DnJ @andiraa & Gofar,
Isinya boleh keluh kesah, kirim salam, surat cinta, bahkan sekedar curhat.

Surat ditujukan ke

DnJ Hard Rock FM
Gedung Sarinah lt.8 JL. MH.Thamrin 11 Jakarta 10350 paling lambat tanggal 16 Oktober.

Surat yang terpilih akan dapetin hadiah caem dan kalo lo kasih perangko balasan, maka surat lo akan kita bales dengan penuh cinta.

Ditunggu! #DnJ

Yang Penting Eksis

Hari pertama ketika gue masuk SMA masih dengan memakai seragam SMP, gue terkesima melihat kakak-kakak kelas yang cantik dengan kaos ketat dan beha berwarna nyeplak jelas menerawang, mereka adalah kakak-kakak kelas 3, karena enggak mungkin kalo kelas 1 dandan kaya gitu, kalo kelas 2 dandan gitu berarti termasuk yang berani.  Kakak-kakak kelas yang cewek kalo sekolah sepertinya beda tipis dengan fashion show, baju seragam ketat, pake make-up tipis, kaos kaki panjang dan flat shoes dan rok yang mini banget. Mungkin cewek-cewek SMA sekarang makenya rok panjang  dibuat sepan, seketat mungkin yang kalo jalan susah banget udah kaya penganten Jawa.

Pada hari itu gue mau ke toilet, ketika mau masuk tiba-tiba keluar sepasang cowok cewek sambil ketawa-ketawa kecil bergandengan berlari-lari. Pertanyaan yang timbul di kepala gue adalah “Ngapain die pada beduaan di WC?”, dan gue kaget sekaget-kagetnya ketika di dalam toilet gue menemukan kondom bekas. Gue langsung teriak “Ini sekolah Rock N Roll banget!” *sambil mengacungkan tangan dengan simbol devil horn ke atas langit*

Permasalahan seks dari jaman gue sampai sekarang masih sangat tabu untuk didiskusikan secara formal di dunia pendidikan dan itu ngebuat para remaja-remaja mencari tau dengan caranya sendiri. Nanya-nanya temen, liat bokep di internet sampai kepikiran untuk nyoba karena penasaran. Dan lebih parahnya lagi adalah, banyak remaja-remaja yang menggunakan seks sebagai media untuk eksis. Menjadi gampangan asal bisa kenal dengan semua cowok-cowok, jadi bispak asal bisa deket sama orang-orang yang ngehits di pergaulan, bela-belain nongkrongin guestlist asal bisa masuk klub gratis yang gampang digiring hanya modal minuman doang, semua dilakukan supaya famous dan eksis.

Banyak cara untuk menjadi eksis, enggak perlu menggunakan seks untuk bisa muncul di pergaulan, buatlah sebuah karya entah itu bikin blog, mau food blogger, fashion blogger atau apa saja, bisa juga dengan nyanyi-nyanyi di Soundcloud atau sekedar foto-foto selfie yang enggak ganggu di Instagram yang akan dikomen “wow/Nice” sama akun Tinggi_langsing_ideal (Note: sering selfie boleh, asal cakep). Lalu buatlah karya nyata di dunia nyata, supaya orang-orang tau siapa elo, coba ikutan temen untuk jadi relawan di sebuah event-event gaul, jadi reporter magang di media agar bisa menambah koneksi, atau apa sajalah dan yang terpenting harus dilakuin secara berkala dan konsisten. Karena eksitensi akan hadir dengan sendirinya seiring konsistensi.

Gue gak mau sok-sokan jadi pembijak yang skeptis nan moralis, mengatakan bahwa seks itu enggak usah dicoba-coba, tapi sepertinya lebih baik elo mempelajari terlebih dahulu, bekali diri lo dengan peluru edukasi, cari tau akibatnya jika elo melakukan itu. Karena seks itu ibarat mengendarai sebuah mobil, harus tau bagaimana mengoperasikannya, harus hati-hati liat kiri kanan suapaya enggak membahayakan orang lain dan ada waktunya buat lo untuk dapetin SIM, jangan ilegal. Yang paling penting, semua dilakukan dalam keadaan aman.

Jadilah seseorang yang berkelas, karena kalo lo emang enggak bisa jadi mahal, ya setidaknya jangan jadi murah.

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Hai Magazine edisi 40 2014

Cinta Bebal Kanibal

Seumur-umur gue punya hewan peliharaan itu baru dua kali, pertama ketika SD punya kucing kampung yang gemuk dan lucu bernama Raiden (diambil dari nama tokoh Mortal Kombat), yang kedua, sekarang ini punya peliharaan ikan maskoki yang bernama Mona dan Heru. Kucing animality-fatality-finish him bernama Raiden itu mati kelindes mobil dan seketika itu gue jadi enggak begitu suka kucing, nah kalau si peliharaan ikan mas koki ini mungkin memelihara secara enggak sengaja. Suatu hari gue ke toko Es Hardwer, berniat membeli kanebo malah balik-balik beli pupuk taneman dan aquarium, entah kenapa gue beli pupuk taneman yang sampe sekarang enggak pernah dipake, kecuali aquarium, pada akhirnya gue memutuskan “yaudah, deh, beli ikan aja daripada mubazir”. Btw, kanebo yang tadi niatnya pengen beli, malah enggak kebeli.

Bisa dibilang gue ini orang yang biasa aja sama hewan, bukan tipikal yang gemes-gemes amat kalau liat hewan peliharaan dan bukan seorang pencinta hewan, waduh jauhhhhh deh kalau dibilang pencinta hewan, karena berat banget cuy predikat itu. Menurut gue untuk mencintai hewan, satu-satunya cara untuk mencintai adalah tidak memakan daging mereka, enggak mungkin lah kalau lo sayang sama sesuatu atau seseorang tapi lo makan juga, termasuk makan temen, kecuali kalau lo emang termasuk orang  yang seperti itu. Cinta kok kanibal?

Pertanyaan gue sudah gue pertanyakan kepada mereka yang mengaku seorang aktivis hewan atau penyayang hewan atau pencinta hewan atau apalah namanya itu, kalau emang cinta hewan, kenapa masih makan daging mereka? Jawaban yang gue dapet adalah “Ya, kalau masih makan hewan sih itu opsi aja” atau “Itu kan pilihan, memakan daging hewan bukan berarti enggak peduli dong?” atau jawaban pamungkas standar template “Yaaa balik lagi ke orangnya sih”.  Jawaban-jawaban tersebut sepertinya tidak cukup memuaskan gue.

Sayang, cinta, tapi kok dimakan? Mengaku hewan itu saudara, tapi kok masih aja girang dapet kupon qurban buat sate party? Memilih opsi untuk menjadi vegetarian atau vegan mungkin jawabannya, mungkin, lho, dan di dalam vegetarian itu sendiri juga terbagi dalam beberapa pilihan, ada yang makan sayur aja tapi masih mentolelir makan telur, ada yang pure enggak makan telur dan produk olahan daging lainnya, sampai yang militan enggak memakai produk yang ada bahan hewannya sama sekali, bahkan beberapa temen gue selalu memasak makanannya sendiri untuk dimakan, karena mereka percaya kalau beli makanan di luar masih memakai kaldu.

Kultur vegan ini kental sekali berada di dalam manifesto Anarcho Punk, Crusty, Hardcore dan Grindcore, dimana band-band semacam Disrupt, Earth Crisis, Dropdead, Extreme Noise Terror, Caninus dan semacamnya lantang menyuarakan Animal Right. By the way, band Caninus ini bisa dibilang pencinta anjing sejati, tercermin dari vokalis mereka yang sangar sekali, seekor anjing jenis Pitbull.

Sekali lagi, predikat pencinta hewan itu sangat berat. Kalau lo suka anjing atau kucing dan lo bisa berkilah ke gue “Ya kan gue enggak makan daging anjing atau kucing!” menurut gue jangan pake predikat pencinta hewan, ganti aja jadi pencinta anjing atau kucing, yang emang lo sayang banget sama mereka sampai enggak makan daging mereka. Karena kalau memang lo masih makan daging mereka, berarti lo bukan pencinta hewan, tapi sama seperti gue, penikmat hewan.

Hidup Karnivora.

-Gofar Hilman-

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 18

Rahayu

Bukan, bukan, Rahayu itu bukan nama cewek gue atau nyokap gue, tapi nama mobil tua gue, VW Golf MK1 taun 1978. Mungkin sama kaya lo, punya kebiasaan menamakan tunggangannya dengan nama kesayangan, selain mobil, gue juga punya motor Suzuki A100 tahun 1980, yang gue modif jadi Caféracer yang gue kasih nama Ningsih, beli seharga  900ribu dari pegawai Telkom, karena dahulu kala, motor ini memang menjadi kendaraan operasional Telkom dan Pos&Giro.

Syarat ketika menamakan tunggangan, motor/mobil buat gue yang pertama adalah harus sayang, yang kedua harus tahun tua dan yang ketiga harus nama yang Indonesia banget. Seperti yang gue sebut pada point pertama, harus sayang, bahkan harus benar-benar sayang, karena kalau enggak menurut gue akan susah, permasalahannya ini bukan tahun muda yang tinggal starter, injek gas, rem dan perawatan cuma ganti oli doang, tapi lebih dari sekedar itu, butuh effort lebih, butuh waktu, tenaga, uang dan perasaan. Ketika lo dah sayang, apapun bentuk ngambeknya kendaraan lo, lo akan merasa itu semua adalah seni, tapi kalau enggak sayang, lo akan ketemu dengan fase ‘never ending problems’.

Permasalahan yang memang tiada henti, ada aja yang rusak, apalagi semenjak mobil harian Ford Focus MK2 gue kecelakaan ketika puasa, ringsek total dan harus mendekam lama di bengkel, Rahayu gue pake buat harian dengan jarak yang lumayan jauh, ibaratnya adalah kakek-kakek disuruh sprint bakal cepet ngos-ngosan atau bahkan bisa koma di tempat. Pertama beli Rahayu dari seorang teman, hari kedua udah gue langsung test dari Fatmawati – Karawaci – Kemayoran. Kombinasi ngebut di tol dan macet parah, Rahayu gue siksa sampai titik dimana dia akan menyerah, dan benar ketika sampai Gajah Mada dari Karawaci, mobil ini berasap karena overheat, gue berhenti sebentar, kasih air mineral di radiator dan nunggu sampai adem, enggak lama kemudian gue bawa lagi Rahayu dengan cara pelan-pelan plus matiin AC, dimana cuaca Jakarta saat itu 40 derajat celcius, berkendara menuju Kemayoran dengan kemeja dibuka cuma make singlet doing dan handuk kecil dikalungkan di leher yang mirip sekali dengan supir truk Pantura yang hobi mijit di warung remang-remang.

Solusi dari masalah overheat adalah akhirnya gue menambahkan kipas pendingin menjadi tiga buah, konsekwensinya tarikan mobil jadi lebih berat, tapi enggak apa-apa, yang penting jarum temperature tiarap! Tapi apakah masalah mobil ini berakhir, oh tentu tidakkkkk masih banyak masalah-masalah lain yang menunggu. Suatu hari gue mau pergi ke BSD dari Fatmawati, ketika masuk tol TB Simatupang, Rahayu udah rada-rada aneh, rasanya semacam bensin mau habis tapi ternyata masih penuh, di tengah perjalanan tiba-tiba Rahayu mati, gue minggirin sebentar dan coba nyalain lagi, Rahayu nyala dan gue ajak jalan lagi, tapi enggak lama mati lagi, nyalalagi, dan begitu seterusnya sampai 50 kali, akhirnya gue memutuskan untuk puter balik ke rumah dengan durasi waktu 3 jam. Waktu yang cukup lama hanya untuk muter balik dari Fatmawati – Tol Pondok Ranji – Fatmawati.

Masih berkaitan dengan BSD. Pada suatu pagi yang cerah gue hendak menuju Karawaci untuk bekerja, perjalanan lewat tol TB Simatupang sangat mulus tanpa kendala,  keluar tol Teras Kota masih lancar, sampai tiba-tiba di daerah Alam Sutra mobil ini ngambek lagi, mogok enggak tau kenapa, gue cek temperatur, saluran bensin enggak ada masalah dan akhirnya gue minta tukang ojek untuk dorong mobil ini sampai ke bengkel terdekat, mobil mau gue tinggal di bengkel karena gue harus kerja. Ditengah-tengah deg-degannya karena takut enggak keburu ke Karawaci, tiba-tiba ada seseorang  yang nyamperin gue dan ngomong “Rahayu kenape, bang?”, gue enggak tau orang ini siapa yang pasti gue baru sadar kalo Rahayu tenar juga, hahahahha. Orang ini ternyata bernama Fachri, yang sangat baik hati bersedia mengantarkan gue menuju Karawaci dengan mobilnya. Rejeki anak soleh :p

Permasalahan berat yang gue alami dengan Rahyu juga terjadi beberapa hari lalu, sepulangnya dari acara di salah satu beerhouse tiba-tiba Rahayu berhenti mendadak dan gigi enggak mau masuk, pas gue keluar dan liat, ternyata ban sebelah kiri split macam Jean-Claude Van Damme, akhirnya dengan semangat juang tinggi gue berhasil memecahkan rekor baru, membuka ban, memasang as roda yang patah dengen teknik ngolong ala montir, memasang kembali ban tersebut dan semua itu dilakukan dalam keadaan mabuk, hahaha achievement unlocked!

Masih banyak kendala yang gue alamin bareng Rahayu, seperti kunci mobil macet enggak bisa dibuka yang akhirnya harus bongkar stir, knalpot tiba-tiba copot di tengah perjalanan yang akhirnya menghasilkan suara Bajay racing, sunroof bocor yang memaksa gue harus meneduh di bawah flyover ketika hujan sambil terheran-heran berkata dalam hati “kaya bawa motor ye gue? Neduh pas ujan”. Tapi apakah itu semua membuat gue jera? Alhamdulillah sampai saat ini gue masih baik-baik aja enggak ngerasa kapok dan masih sayang sama Rahayu, apalagi si cantik Rahayu ini masih gue pake untuk harian dengan jarak yang lumayan Fatmawati – Karawaci – SarinahThamrin, yang kita tau bahwa mobil tua harfiahnya susah untuk di bawa harian karena factor umur.

Seperti yang gue bilang di awal, butuh waktu, tenaga, perasaan dan uang untuk membangun dan menyayangi sang legenda, gue enggak pernah mau ngitungin udah berapa duit abis untuk jajanin mobil ini, gue harus bekerja keras mencari uang untuk ini semua, yang mana gaji 1 bulan habis dalam kurun waktu hanya 2 jam dipalak eBay. Work Hard, Built Hard. Mumpung belom merit.

Dan memang sepertinya pemakai motor/mobil tua sudah terbukti kredibilitas dan loyalitasnya, mau ngambek seapapun juga, tetap diladenin, tetap dibeliin, tetap disayang-sayang. Maka dari itu wahai perempuan, enggak salah kalian memilih orang yang model begini, asal jangan pacaran sama kolektor mobil/motor tua aja, nanti kalian akan bernasib sama dengan kendaraannya, dilap-lap doang, jarang dipake.

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 17

image

Tolong

Mungkin ada yang sependapat sama gue, kata-kata seperti maaf atau sorry adalah kata yang sebisa mungkin dihindari untuk diucapkan, bukan karena kita enggak tau etika karena enggak mau minta maaf atau takut berbuat salah, tapi ini lebih ke sikap supaya enggak ngegampangin kata maaf. Selain itu, ada satu kata krusial yang juga gue hindari, yaitu “tolong”.

Ketika kita mengucapkan kata tolong, itu berarti kita mengharapkan effort orang lain untuk kepentingan kita. Meminta waktu, tenaga bahkan pikiran orang lain karena kata tolong yang keluar dari mulut kita, yang pada akhirnya, berujung ke satu fase yang membuat kebanyakan orang  jadi enggak enak, yaitu fase balas budi. Kita seperti berhutang, yang kalau enggak dilunasi akan menghantui pikiran kita…. selamanya. *genjreng kunci A Minor* *ceritanya agak serius*

Kata tolong itu seperti sebuah pengharapan dan kalau enggak sesuai track akan sangat kecewa. Contohnya adalah ketika gue berusaha benerin dashboard mobil, posisi dashboard ketika akan dibuka harus melepas stir mobil terlebih dahulu, dan di dalam dashboard ada tape/cd player yang lumayan berat, jadi ketika buka dashboard harus menahan tape tersebut agar kabel-kabelnya tidak rusak. Di depan gue ada tetangga kosan, yang dimana gue bisa aja meminta bantuan dia dan gue yakin dia dengan senang hati mau melakukannya, tapi gue lebih memilih menahan stir mobil dan tape tersebut dengan kedua lutut gue. Dengan dalih, enggak mau ngeribetin orang, meskipun guenya sendiri yang ribet menahan dengan posisi sirkus.

Atau menanyakan sesuatu barang yang sedang kita cari, misalnya spoiler mobil. Untuk barang yang sangat langka di pasaran dan susah mencarinya via forum jual beli lokal, mau enggak mau kita tanya-tanya sama anak komunitas lewat mulut ke mulut, meminta tolong teman kita untuk mencarikan barang tersebut, tapi dengan mencoba mengandalkan orang lain waktunya pasti akan tidak secepat yang kita mau, apalagi dengan kesibukan mereka yang mungkin kepentingan kita ya enggak penting-penting amat buat mereka. Akhirnya gue lebih memilih untuk hunting sendiri ke penjual onderdil bekas atau order via eBay, meskipun jatuhnya lebih mahal harganya, tapi gue puas.

Gue tipikal orang yang seperti itu, meminimaliskan kata tolong karena gue percaya sama kemampuan diri gue sendiri, mungkin karena paham DIY atau Do It Yourself yang gue kenal sejak SMA, mengajarkan gue untuk hidup mandiri. Tapi ternyata kalau kita telaah lagi, DIY itu bukan ngerjain sendiri benar-benar sendirian, tapi lebih bersifat kolektif. Dimana elo dan temen-temen lo mengerjakan sesuatu dengan dasar kebersamaan.

Dan gue sadar, gue terlalu keras terhadap diri gue sendiri, gue lupa kalo sifat dasar manusia adalah saling membutuhkan dimana gue tau gue memang memerlukan kata “tolong”. Karena kata tolong itu bersifat kekeluargaan, bonding session dengan orang-orang, bisa lebih memahami satu sama lain. Karena tolong itu ibarat curhat, ketika orang curhat kepada kita berarti orang itu percaya dengan kita, begitupun sebaliknya.

Jadi jangan ragu untuk meminta atau memberikan pertolongan, karena kita adalah manusia.

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 16image

Sinema-Sinema

Kalo denger Sinema-Sinema, pasti kita jadi teringat pada acara di salah satu televisi swasta yang berinisial “RCTI” pada era 90an, acara yang dipandu oleh Ira Wibowo dan Mayong Suryolaksono itu menyajikan sinopsis dan review singkat tentang film-film yang akan atau sedang beredar di bisokop-bioskop, meski tak setajam Rotten Tomatoes, seenggaknya kita pernah punya acara pembahasan film seperti ini. 

Gue seneng baca-baca review-review film dan selalu baca review dari banyak sumber dan gue pribadi enggak terlalu percaya ketika sebuah film dibilang bagus atau jelek, karena ya itu, namanya review kan cuma opini, sangat subyektif. Sering, sih, ketika ada orang yang bilang film A jelek, tapi pas gue tonton bagus, film B bagus tapi pas gue liat malah jelek banget. Makanya gue harus nonton film itu untuk ngebuktiin sendiri.

Semua orang butuh hiburan, dan film adalah mahakarya hiburan yang bisa memenuhi aspek pemanjaan audio dan visual. Untuk pemanjaan audio dan visual tersebut kita harus berterimakasih sama orang yang menemukan bioskop. Sound nendang dan layar besar bisa membuat kita duduk  manis manja group. Tapi enggak selamanya kita bisa duduk manis manja group di bioskop, karena seringkali kita terganggu ketika bertemu dengan orang-orang yang bisa membuat kegiatan nonton kita jadi enggak asik. Nah, inilah dia tipe-tipe orang-orang annoying itu:

Gerombolan anak muda sok rusuh. Masuk kebioskop ketika film sudah mulai, jalannya agak lama karena nyari bangku dan ngalingin layar, becanda-becanda dengan suara kenceng, pas duduk masih ceng-cengan. Mungkin tipikal orang seperti ini terinspirasi dari lagu Ramones “I Don’t Want to Grow Up”, bagus memang, ya tapi jangan pas film udah mulai kaleeeee.

Orang yang banyak nanya. Bayangin, di tengah film lo lagi tegang-tegangnya nonton Prometheus, menerka-menerka kira-kira tuhan itu seperti apa dan tiba-tiba terdengar suara dari sekitar kursi lo ada orang bertanya sama pacarnya “Beb, akuh enggak ngerti filmnya, maksudnya apa sih?” atau “Kok mereka nyari tuhan sih? Kan enggak boleh dalam agamaaaaaa”. Nyebelin, kan? Nah, yang lebih nyebelin lagi ketika orang yang ditanya malah ngejawab, bukan nyuruh diem yang bertanya.

Orang tidur. Oke, enggak dipungkiri, gue juga pernah tidur di dalem bioskop, sering malah, tapi lo pasti tau jenis tidur apa yang paling ganggu? Yup, betul, ngorok. Bayangin sekarang, lo lagi nonton film Hachiko, pas adegan sedih si anjing nunggu majikan yang tak kunjung datang, air mata lo tertahan di kantung mata, sebentar lagi akan keluar dan tiba-tiba terdengar suara “Ngookkkk, krookkkkkkkk grrrauukkkkkk” dengan irama hyperblast ala ketukan drum Death Metal.

Orang yang bawa makanan dengan aroma menyengat. Tempat jual makanan di dalam bioskop sepertinya sudah lumayan lengkap, tapi seringkali kita ngidam suatu makanan yang memang enggak dijual bioskop, meskipun enggak boleh sama pihak bioskop untuk bawa makanan dari luar, tetep aja kita pernah bandel, itulah fungsi dari tas cewek sebenarnya, untuk nyelundupin makanan dari luar :p. Kalo cuma minuman kemasan atau snacks sih enggak apa-apa, nah kalo bawa makanan macem nasi padang, duren atau cempedak?

Orang dengan handphone yang enggak disilent. Lupa silent handphone ketika berada di dalam bioskop mungkin lo pernah ngalamin begitupun juga gue, tapi kan yah sebagai manusia yang tepo seliro di dalam pelajaran PMP kita kan langsung silent handphone pas ada panggilan masuk, yang nyebelin adalah ketika ada orang yang membiarkan handphonenya bunyi terus, lebih nyebelin lagi kalo ringtonenya lagu Buka Sitik Joss dengan volume maksimal dan bakal lebih nyebelin lagi kalo panggilan masuknya malah dijawab.

Orang yang membawa bayi. Sepertinya kategori umur di dalam perbioskopan Indonesia enggak ngaruh-ngaruh amat. Masih banyak anak-anak dibawah umur yang bisa nonton film dewasa, menurut gue kontrol pertama yang paling ngaruh ada di diri kita sendiri, jangan deh bawa anak kecil untuk nonton film yang bukan kategori umurnya dan yang paling penting adalah pikir dua kali kalo bawa bayi. Oke, gue sadar di dalam masyarakat urban yang sibuk, seringkali para pasangan membawa bayinya untuk nonton dengan alasan di rumah enggak ada yang jaga, tapi kalo bayinya nangis di tengah-tengah film malah jadi ngeganggu penonton yang lain. Kontrol kedua, dari pihak bioskop, sepertinya pihak bioskop harus sesegera mungkin menyedian Cry Room/Crying Room seperti di bioskop luar negeri.

Orang pacaran. Bukan maksud gue untuk iri karena gue single, tapi kalo pacaran di dalem bioskop ya sepertinya bukan tempat yang nyaman. Sebatas pegangan tangan, pala nyender di bahu atau kecup kening masih enggak apa-apa lah, nah kalo udah cipokan mesra maen-maenin lidah, grepe-grepe bahkan sampe pala si cewek tiba-tiba ilang, itu jadi pemandangan ganggu sih. Biasanya para pasangan ganggu ini sengaja nyari film yang durasinya lama. Saran gue, get a room.

Kalo lo ketemu tipikal orang-orang yang seperti ini, hak lo untuk kasih tau ke mereka akan keenggaknyamanan lo, kalo masih ngeyel juga, telpon Chuck Norris.

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 15

image

Jadi setiap hari Senin, Rabu dan Jumat Drive n Jive 87,6 HardrockFM Jakarta ada namanya #DnJkustik (Khusus hari Rabu nyanyi lagu Indonesia) dimana itu adalah segmen yang ditunggu oleh kami (bukan kalian) karena kami bisa nyanyi dengan suara seadanya, a to the min. Amin.

DnJ Team:
Gofar Hilman (@pergijauh) sebagai penyanyi
Andira Pramanta (@andiraa)sebagai penggitar

Produser: Satya Kocil Permana (@satyaapermana)

About

PERGIJAUH Follow Me at Twitter @pergijauh

Following

Top