PERGIJAUH

PERGIJAUH

Jadi setiap hari Senin, Rabu dan Jumat Drive n Jive 87,6 HardrockFM Jakarta ada namanya #DnJkustik (Khusus hari Rabu nyanyi lagu Indonesia) dimana itu adalah segmen yang ditunggu oleh kami (bukan kalian) karena kami bisa nyanyi dengan suara seadanya, a to the min. Amin.

DnJ Team:
Gofar Hilman (@pergijauh) sebagai penyanyi
Andira Pramanta (@andiraa)sebagai penggitar

Produser: Satya Kocil Permana (@satyaapermana)

Merdeka atau Mandi

Indonesia tahun ini berulang tahun ke 69, mengingatkan gue akan gaya tertentu, gaya merdeka maksudnya. Merdeka akan melakukan gaya 69, 69 tahun perayaan maksudnya, oke, sebentar lagi gue akan digampar editor Free! Magazine. *maap yak*. Jadi gini, ulang tahun kenegaraan biasanya identik dengan kata merdeka, dimana pada masa itu negara kita merdeka ‘colongan’, masa dimana penjajah lagi bengong, yang penting kan merdeka, kita kan bangsa situasionis, aji mumpung yang hebat, mari kibarkan bendera merah putih!

Bendera merah putih, merah artinya warna Path dan putih artinya awan Instagram dengan hashtag #InstaSky #NoFilter. Yang artinya lebih dalam lagi adalah, kebebasan dalam berekspresi di semua lini, termasuk lini masa. Setelah jaman orba, kita mempunyai semangat bersuara yang sangat tinggi, demo hampir setiap hari meskipun jumlah demonstran cuma 4 orang, tapi enggak apa-apa, yang penting ada bukti dokumentasi untuk diberikan kepada NGO luar, yah lumayan lah biar LSM enggak putus suntikan dana.

Merdeka di sosial media. Balik lagi ke tahapan ini, di sosial media kita menemukan kebebasan yang sangat bebas karena kita bisa menjadi apa saja dan siapa saja, bisa merubah karakter kita yang tadinya cupu menjadi rockstar, merubah santri menjadi badboy, merubah anak-anak playgroup menjadi playboy. Bebas ngetwit apa saja, mau ngomong jorok dan ngomong kasar juga bisa, tunaikan ibadah paham egosentris, dimana ketika ada orang yang ngebantah atau enggak suka akan twit lo dan lo akan ngomong “my twitter my rules” atau “kalo enggak suka, unfollow aja!” padahal kan kalimat itu berlaku sama dengan yang lain, “their twitters their rules”, mereka berhak ngomong apa aja termasuk bantah lo, tapi balik lagi, pihak pertama yang dibantah berhak juga bantah balik atau ngomong lagi, “my twitter my rules” atau “kalo enggak suka, unfollow aja!” begitu seterusnya dan seterusnya, yah bebas, namanya juga merdeka.

Merdeka untuk selfie. Mau banggain muka siapa lagi coba kalo bukan muka sendiri? Iyalah, makanya kita harus selfie. Coba sekarang lo selfie di jok mobil depan plus seatbelt terpasang dengan pose sok candid plus caption “huft macet :(”, atau selfie hashtag #OOTD dengan tas dan sepatu kawe Mangga Dua tapi merasa paling glam dan fashionista, bisa juga selfie di pantai dengan mengenakan bikini two-piece meskipun selulit melingkar di sekujur perut dan betis terdapat luka bakar bekas knalpot motor, atau juga selfie dengan bibir ditipis-tipisin dengan senyum ngelengkung menukik tajam plus mata disipit-sipitin yang niatnya kaya artis Korea tapi malah condong ke Korea Utara. Merdeka untuk ganti avatar Twitter dua hari sekali dengan hasil-hasil selfie tadi dengan bumbu tematik, bulan puasa beravatar kerudung, habis lebaran balik ke avatar nongolin belahan toket. Bebas! Namanya juga merdeka.

Merdeka dari kemacetan. Mau bebas dari kemacetan Jakarta? Gampang, jadi orang yang banyak duit, gue enggak ngomongin lo terbang naik helikopter, tapi tetap jalan di darat, cukup sewa patwal lengkap dengan voorrjider, dengan suara sirine yang ngeselin cukup membuat para penghuni jalan lainnya minggir sambil menggerutu. Voorijder patwal ini juga sangat penting untuk kawanan om-om Harley yang yang berlagak outlaw tapi di kawal polisi,OUTLAW TAPI DIKAWAL POLISI. Biasanya si om-om dan remaja spoiler brat ini merasa pride dengan dandanan yang (katanya) sangar memakai stocking tattoo di kedua lengan dan memakai atribut brand motornya dari ujung rambut sampai ujung kaki, tak lupa mereka mengajak pacar atau istrinya yang di dandanin serupa, ibu-ibu dipakein atribut  motor dari iket kepala kulit, rompi, boots, masker tengkorak, yang niat awal pengen jadi lady bikers tapi malah jadi penyanyi dangdut Neneng Anjarwati.  Bebas, kan kita bangsa merdeka.

Atau jikalau lo enggak bisa melakukan semua itu seperti yang tadi gue bilang, lo cukup melakukan aktivitas simpel, yaitu mandi. Karena mandi akan membuat tubuh kita tenang dan merdeka, nyalakan shower setengah panas dan dingin, keramas sambil berteriak “MERDEKAAA…AAA…AAA!” dengan efek gema memenuhi dinding kamar mandi, sabunan dengan gerakan super slow motion agar buliran air shower terlihat jelas dan fokus sabunan pada bagian tubuh tertentu sambil diiringi lagu Carless Whisper-nya George Michael.

MERDEKA!

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 14

Ngajak Check in

Lebarnya Lebaran

Gue       : “Smelekuummmm”

Nyokap  : “Eh, elo, untung lo dateng, ampir gue lupa kalo gue punya anak cowok yang gede”

Itulah kalimat sindiran yang biasa digunakan nyokap gue ketika gue balik ke rumah nyokap, maklum, gue termasuk anak yang jarang balik, hehe, paling kalo pas puasa atau pas lebaran doang. Tapi emang, sih, lebaran itu paling enak sama keluarga, selain perbaikan gizi untuk anak kost seperti gue, juga untuk mempererat hubungan dengan anggota keluarga yang lain. Hal yang harus gue ubah memang, mesti sering-sering mengunjungi nyokap, memanfaatkan momen maksimal selama orang tua kita masih ada.

Lebaran di Indonesia itu sendiri sudah menjadi kultur, ketupat dan pesta kolesterol, settingan meja yang template: toples nastar, putri salju, kacang bawang, permen fox warna-warni, dan kaleng khong guan/astor yang isinya sudah diganti dengan peyek, belanja pakaian baru yang dimana ketika sampai rumah dan ada tetangga melihat kita bawa tentengan belanjaan akan ngomong “Wuih, boronggg nih, jadi juga lebaran”. Kultur yang lekat juga ketika lebaran adalah ngebaks, maksud gue ngebakso. Bakso di Indonesia terutama pada masyarakat Sunda adalah tradisi, gak heran kalau di Tasik, Garut dan sekitarnya setiap jarak berapa meter pasti ada kedai bakso. Ngebakso dengan keluarga sore-sore pedes-pedes sampai hidung keringetan.

Ketika kumpul keluarga pas lebaran, pasti di setiap keluarga punya tante yang nyebelin, dimana kerjaannya adalah membandingkan kita dengan sepupu-sepupu, atau mengeluarkan pertanyaan sakti yang itu-itu mulu, “kapan nikah?”. Menurut gue sih tipikal tante nyebelin seperti ini mungkin saja mau nyoba akrab dengan kita, dibawa santai saja, karena orang yang terlalu ribet menanggapi pertanyaan “kapan nikah?” adalah orang-orang yang insecure sama status dirinya sendiri.

Karena lebaran itu penuh dengan kebaikan dan mempunyai makna yang sangat lebar. Pada masyarakat urban yang sangat individual, lebaran bisa menjadi ajang mengenal dengan tetangga-tetangga yang selama ini kita enggak pernah tau siapa-siapa saja nama-namanya, bisa cipika-cipiki dengan gadis komplek pujaan atau malah bisa baikan sama mantan. Inget ya, baikan, bukan balikan. Karena gue percaya balikan sama mantan bukan untuk memperbaiki kesalahan, tapi mengulang kesalahan. Lagian kok udah putus malah musuhan, jangan dong. Karena kalo lo punya prinsip ketika putus terus musuhan, berarti semakin sering lo pacaran semakin banyak pula musuh lo dong? Wah, wah jangan deh jangan. Karena mantan itu harus di maintain, siapa tau suatu saat jadi manten. *lah?*

Memperbaiki hubungan bukan hanya dengan mantan pacar saja, tetapi juga dengan orang-orang di sekitar kita. Maka enggak heran kalo kata maaf sangat laku sekali ketika lebaran. Tapi janganlah sampai kau menjadi pribadi seperti Mpok Minah di sitkom bajaj Bajuri yang sedikit-sedikit minta maaf, atau ngepost di sosmed ucapan maaf copy paste template lebaran plus huruf-huruf arab yang mungkin elo sendiri juga enggak ngerti apa artinya, karena maaf itu sama seperti ucapan  terimakasih, sangat sakral, jangan pernah mengucap ketika lo emang enggak bener-bener merasakan, cuma hanya karena euphoria lebaran.

Karena menurut gue, meminta maaf dan memaafkan itu mudah, yang tersulit adalah melupakan persoalan dan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa.

Maafin ya.

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 13

 image

Pembeli adalah Raja

Tiga tahun sudah gue membuka toko bersama teman-teman di Jalan Kemang Selatan bernama Lawless Jakarta, waktu yang masih sangat sebentar untuk bisa dibilang sukses, tapi yang pasti kami selalu berusaha konsisten tentang apa passion kami, konsistensi yang kami lakukan adalah dengan berkesinambungan membuat acara, setahun kami bisa buat minimal 5 acara. Konsistensi membuat acara seperti ini sangat ampuh untuk brand image, karena gue yakin, konsistensi akan membuahkan eksistensi.

Ketika membuka sebuah toko, gue percaya kalau sang pemilik harus menjaga toko terlebih dulu, menjadi pegawai untuk tokonya sendiri agar bisa memahami ‘medan perang’. Seperti yang gue lakuin, awal-awal membuka toko, gue menjadi penjaga  toko, kadang menjadi kasir, kadang melayani pembeli dan kadang juga mengambil barang pesanan di gudang stok dengan atau tanpa ditemani crew toko. Selain itu sang pemilik juga harus rajin-rajin ngobrol dengan pembeli, mencari tau apa yang mereka butuhkan. Menjaga hubungan dan kaderisasi.

Menjaga hubungan  dengan pembeli kuncinya adalah harus sabar, karena enggak semua pembeli mempunyai inisiatif dan otak yang mumpuni. Contoh dalam pembelian online, mungkin nasibnya sama seperti pemilik toko lainnya yang mendagangkan dagangannya secara online, ketika sang pemilik mengiklankan di Twitter, Facebook atau webnya dengan informasi sangat lengkap seperti “Tshirt XXX, tersedia warna hitam dan putih, size S sampai dengan XXXL harga 150ribu [insert gambar produk]” pasti ada aja pertanyaan brilian seperti “Ada size M gak?” atau “Ada warna merah?” atau “Harganya berapa, bro!”. Meskipun demikian, semua pertanyaan tersebut harus dijawab dengan sabar. Palingan sih, ada pembeli lain yang nyeletuk atau komen “Baca dulu dong! Semua lengkap kali dijelasin, dongo!”

Itu baru online, bagaimana dengan pembeli yang datang langsung ke toko? Dalam keseharian menjaga toko, banyak sekali karakter-karakter manusia yang datang. Oke, sebelum gue lanjut cerita soal manusia yang datang, gue mau jelasin sedikit tentang toko kami. Lawless Jakarta adalah toko yang menjual apparel, CD, kaset, piringan hitam dan merch yang berhubungan dengan musik (yang kebanyakan adalah metal), motorcyclothes dan di lantai dua toko kami adalah studio tattoo. Di depan toko kami, terdapat pajangan beberapa motor tua, karena kami juga terima jasa custom motor. Nah, udah dapet gambarannya? Kalo begitu balik lagi ke cerita.

Suatu sore yang cerah, datanglah bapak-bapak kumisan kira-kira berumur 50an, memakai kemeja kotak-kotak rapih dimasukan ke celana bahan ramplenya. Masuk ke toko dengan senyuman dan kami balas dengan senyuman. Bapak-bapak itu melihat-lihat kaos satu persatu, melihat CD dan piringan hitam dengan sangat teliti. Sudah hampir satu jam si bapak melihat-lihat tanpa memutuskan mau membeli yang mana. Akhirnya kami tanya, “Ada yang bisa kami bantu, pak?, dan si bapak pun menjawab “Di sini gak jual kue ya?”

YA KALEEE PAK TOKO BEGINIAN JUAL KUEEEEEEEE!

Pernah ada juga yang datang siang-siang, pemuda lemas dengan wajah hasil dari kopi dan Dumolit, membuka pintu toko, hanya kepala yang melongo dan ngomong dengan nada BimBim Slank, “Bro, masuk toko, sendal bole dipake gak yaaaa?”, hmm dan gue jawab “Kalo di ubin depan gak ada cutting sticker tulisan BATAS SUCI sih bole-bole aje, bro”.

Selain kedatangan pembeli lemas, kami juga punya pembeli semangat, atau bisa dibilang terlalu semangat. Pembeli semangat pertama, malam-malam datang, membuka pintu toko, dengan pose mau konser, kemudian dia melakukan air guitar, kebetulan saat itu di toko lagi stel Social Dsitortion-Story of My Life. Dia pun bernyanyi dengan lirik gubahan bahasa Inggris ala planet Namec dan ketika part melodi, dia lanjut air guitar dengan lincah selincah lintah dikasih garem.

Pembeli semangat nomor dua, siang-siang datanglah seorang pemuda berwajah mirip artis Irwansyah dengan dandanan hiphop, mencari celana pendek Dickies ukuran 32, ketika gue kasih celananya lalu dia ke fitting room untuk mencoba. Keluar dari fitting room, dia berdiri di depan gue, berpose tolak pinggang dan berkata “Gue keren, gak?”, gue diem sejenak sambil nyolek-nyolek crew toko sebelah gue lalu gue jawab “Keren, cuy!” dan tanpa diduga tiba-tiba doi joget-joget Agnez Monika. Irwansyah kawe joget Agnez, pemandangan yang enggak enak.

Pembeli semangat ketiga. Seorang pemuda datang membuka pintu dengan keras, “BRUAK!”, lalu berkata “AKHIRNYA SAMPAI JUGA DI NERAKA LAWLESS!!” dengan mata melotot disertai mimik muka dan tangan pose Blackmetal.

Dengan beragamnya karakter manusia yang datang ke toko kami, semakin mengajarkan kami untuk jangan pernah meng-underestimate calon pembeli, perlakukan semuanya dengan sama. Suatu hari datanglah om-om dengan dandanan poloshirt berkerah naik, celana pendek ¾ , memakai wireless bluetooth kecil di kedua telinga, sambil memegang 3 gadget plus dompet plus kunci mobil. Si om itu mengambil banyak baju dan celana tanpa dilihat dulu sembari menelpon dengan topik bisnis batubara dan kapal tongkang dengan suara yang keras. Sesampainya di kasir dia pun berkata “Semua size M ya, berapa totalnya?”, dalam hati gue ini pembeli kakap nih, “Ohh, 1,5juta, om”. Si om itu lalu membuka dompetnya dan mengeluarkan banyak kartu kredit, dipilihnya satu kartu untuk membayar. Satu kartu di decline oleh mesin kami, kemudian kartu kedua dicoba dan di decline juga, begitu seterusnya sampai kartu ke enam. “Om, sorry om, kartunya gak bisa semua, kayanya kartu om yang limit, pembeli lain enggak ada masalah kok” kata gue, lalu si om menjawab “JADI KAMU PIKIR SAYA ENGGAK PUNYA UANG, GITU?! TOKO MACAM APA INI!”. Si om pun bergegas keluar dan kita terpana dengan wajah bingung.

Di lain harinya, seorang anak muda dengan gaya kuli proyek malem Mingguan, kaos ketat, rambut gondrong pake bando ala Diego Forlan, sendal Crocs kembung plus bau matahari menyengat dari badannya datang ke toko dan membeli kaos kami senilai hampir 2jutaan. Lalu ada pula suatu ketika pada malam hari, datang dua anak muda dengan gaya seperti santri baru, datang ke toko menghabiskan uangnya senilai 3 juta. Jujur gue dibuat terkagum, terutama dengan 2 anak muda yang seperti santri baru tersebut karena gue baru tau bahwa mereka adalah seorang buruh di Cilegon, rela menabung 3 bulan hanya untuk beli produk kami. Sebuah penghargaan untuk kami, ketika ada orang yang pengorbanannya sebegitu niat. Standing applause.

Sekali lagi, jangan pernah meng-underestimate calon pembeli, terlebih menilai hanya dari fisiknya saja. Seperti contoh orang yang satu ini, seorang lelaki berumur 40an, datang ke toko dengan badan kekar legam dengan tattoo tribal, memakai tanktop, gahar lah pokoknya. Maksud kedatangan dia adalah untuk bikin tattoo di lengannya, lalu gue suruh ke lantai dua untuk ketemu dengan tattoo artist kita bernama Ambon. Ketika Ambon sedang menyiapkan peralatan tattoonya, tiba-tiba si mas-mas gahar ini membuka tanktopnya. “Lho, ngapain dibuka, mas? Kan natonya di lengan doang?” ujar Ambon, “Enggak, Mbon, biar enak aja” jawab si mas gahar dengan senyum simpul, lalu sesi natopun dimulai. 15 menit kemudian terdengar teriakan agak aneh dari lantai dua, “MBON, UDAH MBON SAKIT MBONN UDAH AKU GAK TAHAN AHHHHH UHHHH~”, para pembeli yang sedang melihat-lihat baju dibawah pun terdiam dengan ekspresi kaget sekaligus menahan ketawa.

Karena sabar adalah kuncinya. Bagaimanapun juga, pembeli adalah raja. Meskipun banyak raja yang ngeselin kaya Ian Kasela.

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 12

Jadi setiap hari Senin, Rabu dan Jumat Drive n Jive 87,6 HardrockFM Jakarta ada namanya #DnJkustik (Khusus hari Rabu nyanyi lagu Indonesia) dimana itu adalah segmen yang ditunggu oleh kami (bukan kalian) karena kami bisa nyanyi dengan suara seadanya, a to the min. Amin.

Karena bulan puasa, maka dari itu kami akan cover lagu religi.

DnJ Team:
Gofar Hilman (@pergijauh) vokal, gendang
Andira Pramanta (@andiraa) gitar, suara “hey!”

Produser: Satya Kocil Permana (@satyaapermana)dan Bobby Mandela (@BobbyMandela)

Jakarta Renta

Kampung gue di Setiabudi Jakarta Selatan, rumah gue dibangun ketika era kemerdekaan Republik Indonesia, pada saat itu di sekelilingnya masih rawa dan sawah. Di rumah ini yang bangunannya kental dengan adat betawi, enggak beda jauh sama rumah di sitkom Si Doel, empat generasi tumbuh termasuk gue. Uniknya, di bawah rumah gue terdapat bunker yang dibuat untuk mengantisipasi kalau-kalau pesawat Jepang akan ngebom, nenek gue dan ayahnya pada jaman  itu memang insecure tingkat tinggi :D

Gue pribadi cukup mengenal daerah Setiabudi, dari masa kecil dihabiskan di kebon pohon sengon di depan wisma Foba, mencari kijing di waduk Setiabudi, main sepeda BMX modif Chopper di Landmark, sampai ikut-ikutan temen ngojek payung di Kuningan.

Gue inget banget pada saat kecil dulu ada bioskop di daerah Setiabudi, gue lumayan sering nonton di situ, dengan harga tiket 1.000 perak gue habiskan untuk nonton American Ninja 1, Karate Kid 1 sampai film-film Rhoma Irama. Sebelum nonton, kronologisnya mungkin hampir sama dengan saat sekarang ini, cuma dengan kemasan lebih generik, menunggu film mulai main dingdong games pesawat 1942  memakai koin seratus perak gambar wayang dengan sistem curang, koin gantung.

Bioskop Setiabudi, gedung tua dengan kualitas seadanya, tempelan poster-poster film dewasa, tukang palak dimana-mana dan sampah berserakan. Bagaimana suasana dalam bioskop? Oke, bangku-bangku bioskop menggunakan bangku Metro Mini, jejeran paling belakang bangkunya beda sendiri, memakai bangku panjang kayu persis yang dipakai di warung kaki lima, sepanjang film penonton boleh merokok dan boleh makan bakso/pangsit/somay di dalem bioskop. Kebayang, sepanjang film asep rokok ngebul dimana-mana dan tukang dagangan hilir mudik nganterin makanan atau ngambil mangkok kosong. Tradisi di bioskop sejenis pada jaman itu adalah ketika ada adegan film yang di sensor, penonton bersorak marah atau teriak “boooooo!” dan kalau ada adegan jagoan dateng terus mukulin musuh, penonton pada bersorak kegirangan diiringi tepok tangan.

Tahun 2007 rumah keluarga gue di Setiabudi dijual dan nasib kita menjadi standar nasib korban gusuran, nyokap pindah ke daerah pinggiran yaitu Cibinong dan gue sewa paviliun di Fatmawati. Setiabudi, dari awalnya jarang ada rumah sampai sekarang dikelilingin gedung tinggi dan kos-kosan 4 tingkat. Bukti bahwa Jakarta sekarang ini tambah padat yang disebabkan manusia yang hobi membuat manusia baru atau sentralisasi yang membuat pattern otak berfikir stereotip, Jakarta adalah sumber uang.

Jakarta tahun ini berusia 487 tahun, bukan lagi fase lucu-lucunya yang pantas dinyanyikan lagu “ala sonang-ala sonang” Benyamin S, tapi kota ini sudah sangat renta. Segala hiruk-pikuk problema yang terjadi setiap hari, satu yang dominan adalah permasalahan macet. Macet terjadi karena peningkatan jumlah kepemilikan kendaraan pribadi. Orang-orang yang lebih memilih untuk membeli kendaraan pribadi mungkin alasannya sama seperti gue, kita enggak punya angkutan umum yang layak, TransJakarta sepertinya kurang memenuhi, kita butuh angkutan darat yang cepat, mari berdoa bersama agar konflik antara Pemprov DKI dan Kemenpora berakhir, supaya pembangunan MRT berjalan cepat.

Gue percaya Tuhan menyukai orang idiot, buktinya, dia menciptakan begitu banyak. Mungkin itu alasan agar manusia bersabar atas manusia-manusia ignorant. Kita bisa lihat setiap hari angkot yang mempunyai supir tanpa kuping, yang mempunyai otak brilian berhenti sembarangan di hook jalan, pengendara motor yang tidak bisa membedakan warna lampu lalu lintas, pengendara motor yang sen kiri eh dia malah belok kanan, pengendara motor yang jalan di tengah jalan sambil ngobrol sama motor sampingnya dengan kecepatan siput, Bajay yang sok-sok masuk ke jalur motor sampai stuck enggak bisa jalan padahal gue yakin supirnya tau kalo dimensi bajay gak mungkin bisa masuk di jalur motor, pengendara mobil yang masuk jalur Busway, pengendara mobil yang jalan pelan karena asik ngetwit ngeluh macet di dalam mobil LCGC, sampai mobil yang parkir sembarangan di pinggir jalan menghalangi mobil lainnya.

Sekali lagi, kita butuh transportasi publik yang memadai, agar tidak terjadi situasi dimana DP motor murah hanya 300 ribu saja bisa bawa balik motor dan DP rendah mobil yang sekarang ini herannya tenor cicilan bisa sampai 6 tahun! By the way, saran gue ketika lo ingin memiliki mobil, pastikan tempat tinggal/kosan lo itu mempunyai tempat parkir, jangan sampai parkir sembarangan di pinggir jalan yang hanya menyisakan satu jalur saja. Konsekwensi lho, kalau punya mobil ya harus ada lahan parkir yang layak, kalau enggak ada, ya jangan maksa punya mobil.

Prediksi gue, Jakarta 50 tahun ke depan akan macet 24 jam, akhirnya pemerintah membangun flyover 5 tingkat, penerusan rencana mantan gubernur Wiyogo Atmodarminto dengan triple decker. Mobil murah mendominasi, pembangunan Subway enggak selesai karena kepentingan politik, ormas fasis tambah kuat, pemerintah bekerjasama dengan Skynet untuk mengontrol kota. Membuat Cyborg dengan Cyberdyne Systems ala Terminator. Dan kita berharap Imam Mahdi datang.

Berharap merevolusi kota, bisa dilakukan memang, tapi melalui proses yang sangat panjang, menurut gue yang terpenting sekarang ini adalah merevolusi diri kita. Macet yang ada bisa diatasi dengan cara menikmatinya. Bagaimana caranya? Ini yang udah gue lakuin: Pertama, bernyanyilah. Dengan bernyanyi suasana hati jadi senang, ketika lo di motor bernyanyilah saat melaju kencang dan ketika macet atau terkena lampu merah, volume nyanyi dikecilin dikit biar enggak malu. Kalau di mobil, lebih gampang, bernyanyilah dengan lantang, latih vibra suara, falsetto dan artikulasi. Ini berguna banget agar sewaktu-waktu lo karaoke bareng temen lo, lo udah jago atau ketika lo dipalak nyanyi pas kondangan, lo udah siap. Kedua, main dubbing-dubbingan. Lo liat situasi di depan lo, ketika ada orang bengong atau ada pengendara motor yang ngobrol dengan orang yang dibonceng ketika lampu merah, cobalah dubbing ala Spontan Uhuy, buatlah percakapan selucu mungkin, dengan melakukan ini lo bisa mengasah kreativitas lo.

Apapun yang terjadi, gue tetep cinta Jakarta. Gue lahir, dibesarkan dan mencari duit di kota ini, sama seperti lo, gue juga mengidam-idamkan Jakarta yang bebas macet. Jadi inget dulu almarhum nenek gue pernah berkata “sesama pendatang, dilarang ngeluh macet”.

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 11

About

PERGIJAUH Follow Me at Twitter @pergijauh

Following

Top