PERGIJAUH

PERGIJAUH

Lebarnya Lebaran

Gue       : “Smelekuummmm”

Nyokap  : “Eh, elo, untung lo dateng, ampir gue lupa kalo gue punya anak cowok yang gede”

Itulah kalimat sindiran yang biasa digunakan nyokap gue ketika gue balik ke rumah nyokap, maklum, gue termasuk anak yang jarang balik, hehe, paling kalo pas puasa atau pas lebaran doang. Tapi emang, sih, lebaran itu paling enak sama keluarga, selain perbaikan gizi untuk anak kost seperti gue, juga untuk mempererat hubungan dengan anggota keluarga yang lain. Hal yang harus gue ubah memang, mesti sering-sering mengunjungi nyokap, memanfaatkan momen maksimal selama orang tua kita masih ada.

Lebaran di Indonesia itu sendiri sudah menjadi kultur, ketupat dan pesta kolesterol, settingan meja yang template: toples nastar, putri salju, kacang bawang, permen fox warna-warni, dan kaleng khong guan/astor yang isinya sudah diganti dengan peyek, belanja pakaian baru yang dimana ketika sampai rumah dan ada tetangga melihat kita bawa tentengan belanjaan akan ngomong “Wuih, boronggg nih, jadi juga lebaran”. Kultur yang lekat juga ketika lebaran adalah ngebaks, maksud gue ngebakso. Bakso di Indonesia terutama pada masyarakat Sunda adalah tradisi, gak heran kalau di Tasik, Garut dan sekitarnya setiap jarak berapa meter pasti ada kedai bakso. Ngebakso dengan keluarga sore-sore pedes-pedes sampai hidung keringetan.

Ketika kumpul keluarga pas lebaran, pasti di setiap keluarga punya tante yang nyebelin, dimana kerjaannya adalah membandingkan kita dengan sepupu-sepupu, atau mengeluarkan pertanyaan sakti yang itu-itu mulu, “kapan nikah?”. Menurut gue sih tipikal tante nyebelin seperti ini mungkin saja mau nyoba akrab dengan kita, dibawa santai saja, karena orang yang terlalu ribet menanggapi pertanyaan “kapan nikah?” adalah orang-orang yang insecure sama status dirinya sendiri.

Karena lebaran itu penuh dengan kebaikan dan mempunyai makna yang sangat lebar. Pada masyarakat urban yang sangat individual, lebaran bisa menjadi ajang mengenal dengan tetangga-tetangga yang selama ini kita enggak pernah tau siapa-siapa saja nama-namanya, bisa cipika-cipiki dengan gadis komplek pujaan atau malah bisa baikan sama mantan. Inget ya, baikan, bukan balikan. Karena gue percaya balikan sama mantan bukan untuk memperbaiki kesalahan, tapi mengulang kesalahan. Lagian kok udah putus malah musuhan, jangan dong. Karena kalo lo punya prinsip ketika putus terus musuhan, berarti semakin sering lo pacaran semakin banyak pula musuh lo dong? Wah, wah jangan deh jangan. Karena mantan itu harus di maintain, siapa tau suatu saat jadi manten. *lah?*

Memperbaiki hubungan bukan hanya dengan mantan pacar saja, tetapi juga dengan orang-orang di sekitar kita. Maka enggak heran kalo kata maaf sangat laku sekali ketika lebaran. Tapi janganlah sampai kau menjadi pribadi seperti Mpok Minah di sitkom bajaj Bajuri yang sedikit-sedikit minta maaf, atau ngepost di sosmed ucapan maaf copy paste template lebaran plus huruf-huruf arab yang mungkin elo sendiri juga enggak ngerti apa artinya, karena maaf itu sama seperti ucapan  terimakasih, sangat sakral, jangan pernah mengucap ketika lo emang enggak bener-bener merasakan, cuma hanya karena euphoria lebaran.

Karena menurut gue, meminta maaf dan memaafkan itu mudah, yang tersulit adalah melupakan persoalan dan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa.

Maafin ya.

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 13

 image

Pembeli adalah Raja

Tiga tahun sudah gue membuka toko bersama teman-teman di Jalan Kemang Selatan bernama Lawless Jakarta, waktu yang masih sangat sebentar untuk bisa dibilang sukses, tapi yang pasti kami selalu berusaha konsisten tentang apa passion kami, konsistensi yang kami lakukan adalah dengan berkesinambungan membuat acara, setahun kami bisa buat minimal 5 acara. Konsistensi membuat acara seperti ini sangat ampuh untuk brand image, karena gue yakin, konsistensi akan membuahkan eksistensi.

Ketika membuka sebuah toko, gue percaya kalau sang pemilik harus menjaga toko terlebih dulu, menjadi pegawai untuk tokonya sendiri agar bisa memahami ‘medan perang’. Seperti yang gue lakuin, awal-awal membuka toko, gue menjadi penjaga  toko, kadang menjadi kasir, kadang melayani pembeli dan kadang juga mengambil barang pesanan di gudang stok dengan atau tanpa ditemani crew toko. Selain itu sang pemilik juga harus rajin-rajin ngobrol dengan pembeli, mencari tau apa yang mereka butuhkan. Menjaga hubungan dan kaderisasi.

Menjaga hubungan  dengan pembeli kuncinya adalah harus sabar, karena enggak semua pembeli mempunyai inisiatif dan otak yang mumpuni. Contoh dalam pembelian online, mungkin nasibnya sama seperti pemilik toko lainnya yang mendagangkan dagangannya secara online, ketika sang pemilik mengiklankan di Twitter, Facebook atau webnya dengan informasi sangat lengkap seperti “Tshirt XXX, tersedia warna hitam dan putih, size S sampai dengan XXXL harga 150ribu [insert gambar produk]” pasti ada aja pertanyaan brilian seperti “Ada size M gak?” atau “Ada warna merah?” atau “Harganya berapa, bro!”. Meskipun demikian, semua pertanyaan tersebut harus dijawab dengan sabar. Palingan sih, ada pembeli lain yang nyeletuk atau komen “Baca dulu dong! Semua lengkap kali dijelasin, dongo!”

Itu baru online, bagaimana dengan pembeli yang datang langsung ke toko? Dalam keseharian menjaga toko, banyak sekali karakter-karakter manusia yang datang. Oke, sebelum gue lanjut cerita soal manusia yang datang, gue mau jelasin sedikit tentang toko kami. Lawless Jakarta adalah toko yang menjual apparel, CD, kaset, piringan hitam dan merch yang berhubungan dengan musik (yang kebanyakan adalah metal), motorcyclothes dan di lantai dua toko kami adalah studio tattoo. Di depan toko kami, terdapat pajangan beberapa motor tua, karena kami juga terima jasa custom motor. Nah, udah dapet gambarannya? Kalo begitu balik lagi ke cerita.

Suatu sore yang cerah, datanglah bapak-bapak kumisan kira-kira berumur 50an, memakai kemeja kotak-kotak rapih dimasukan ke celana bahan ramplenya. Masuk ke toko dengan senyuman dan kami balas dengan senyuman. Bapak-bapak itu melihat-lihat kaos satu persatu, melihat CD dan piringan hitam dengan sangat teliti. Sudah hampir satu jam si bapak melihat-lihat tanpa memutuskan mau membeli yang mana. Akhirnya kami tanya, “Ada yang bisa kami bantu, pak?, dan si bapak pun menjawab “Di sini gak jual kue ya?”

YA KALEEE PAK TOKO BEGINIAN JUAL KUEEEEEEEE!

Pernah ada juga yang datang siang-siang, pemuda lemas dengan wajah hasil dari kopi dan Dumolit, membuka pintu toko, hanya kepala yang melongo dan ngomong dengan nada BimBim Slank, “Bro, masuk toko, sendal bole dipake gak yaaaa?”, hmm dan gue jawab “Kalo di ubin depan gak ada cutting sticker tulisan BATAS SUCI sih bole-bole aje, bro”.

Selain kedatangan pembeli lemas, kami juga punya pembeli semangat, atau bisa dibilang terlalu semangat. Pembeli semangat pertama, malam-malam datang, membuka pintu toko, dengan pose mau konser, kemudian dia melakukan air guitar, kebetulan saat itu di toko lagi stel Social Dsitortion-Story of My Life. Dia pun bernyanyi dengan lirik gubahan bahasa Inggris ala planet Namec dan ketika part melodi, dia lanjut air guitar dengan lincah selincah lintah dikasih garem.

Pembeli semangat nomor dua, siang-siang datanglah seorang pemuda berwajah mirip artis Irwansyah dengan dandanan hiphop, mencari celana pendek Dickies ukuran 32, ketika gue kasih celananya lalu dia ke fitting room untuk mencoba. Keluar dari fitting room, dia berdiri di depan gue, berpose tolak pinggang dan berkata “Gue keren, gak?”, gue diem sejenak sambil nyolek-nyolek crew toko sebelah gue lalu gue jawab “Keren, cuy!” dan tanpa diduga tiba-tiba doi joget-joget Agnez Monika. Irwansyah kawe joget Agnez, pemandangan yang enggak enak.

Pembeli semangat ketiga. Seorang pemuda datang membuka pintu dengan keras, “BRUAK!”, lalu berkata “AKHIRNYA SAMPAI JUGA DI NERAKA LAWLESS!!” dengan mata melotot disertai mimik muka dan tangan pose Blackmetal.

Dengan beragamnya karakter manusia yang datang ke toko kami, semakin mengajarkan kami untuk jangan pernah meng-underestimate calon pembeli, perlakukan semuanya dengan sama. Suatu hari datanglah om-om dengan dandanan poloshirt berkerah naik, celana pendek ¾ , memakai wireless bluetooth kecil di kedua telinga, sambil memegang 3 gadget plus dompet plus kunci mobil. Si om itu mengambil banyak baju dan celana tanpa dilihat dulu sembari menelpon dengan topik bisnis batubara dan kapal tongkang dengan suara yang keras. Sesampainya di kasir dia pun berkata “Semua size M ya, berapa totalnya?”, dalam hati gue ini pembeli kakap nih, “Ohh, 1,5juta, om”. Si om itu lalu membuka dompetnya dan mengeluarkan banyak kartu kredit, dipilihnya satu kartu untuk membayar. Satu kartu di decline oleh mesin kami, kemudian kartu kedua dicoba dan di decline juga, begitu seterusnya sampai kartu ke enam. “Om, sorry om, kartunya gak bisa semua, kayanya kartu om yang limit, pembeli lain enggak ada masalah kok” kata gue, lalu si om menjawab “JADI KAMU PIKIR SAYA ENGGAK PUNYA UANG, GITU?! TOKO MACAM APA INI!”. Si om pun bergegas keluar dan kita terpana dengan wajah bingung.

Di lain harinya, seorang anak muda dengan gaya kuli proyek malem Mingguan, kaos ketat, rambut gondrong pake bando ala Diego Forlan, sendal Crocs kembung plus bau matahari menyengat dari badannya datang ke toko dan membeli kaos kami senilai hampir 2jutaan. Lalu ada pula suatu ketika pada malam hari, datang dua anak muda dengan gaya seperti santri baru, datang ke toko menghabiskan uangnya senilai 3 juta. Jujur gue dibuat terkagum, terutama dengan 2 anak muda yang seperti santri baru tersebut karena gue baru tau bahwa mereka adalah seorang buruh di Cilegon, rela menabung 3 bulan hanya untuk beli produk kami. Sebuah penghargaan untuk kami, ketika ada orang yang pengorbanannya sebegitu niat. Standing applause.

Sekali lagi, jangan pernah meng-underestimate calon pembeli, terlebih menilai hanya dari fisiknya saja. Seperti contoh orang yang satu ini, seorang lelaki berumur 40an, datang ke toko dengan badan kekar legam dengan tattoo tribal, memakai tanktop, gahar lah pokoknya. Maksud kedatangan dia adalah untuk bikin tattoo di lengannya, lalu gue suruh ke lantai dua untuk ketemu dengan tattoo artist kita bernama Ambon. Ketika Ambon sedang menyiapkan peralatan tattoonya, tiba-tiba si mas-mas gahar ini membuka tanktopnya. “Lho, ngapain dibuka, mas? Kan natonya di lengan doang?” ujar Ambon, “Enggak, Mbon, biar enak aja” jawab si mas gahar dengan senyum simpul, lalu sesi natopun dimulai. 15 menit kemudian terdengar teriakan agak aneh dari lantai dua, “MBON, UDAH MBON SAKIT MBONN UDAH AKU GAK TAHAN AHHHHH UHHHH~”, para pembeli yang sedang melihat-lihat baju dibawah pun terdiam dengan ekspresi kaget sekaligus menahan ketawa.

Karena sabar adalah kuncinya. Bagaimanapun juga, pembeli adalah raja. Meskipun banyak raja yang ngeselin kaya Ian Kasela.

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 12

Jadi setiap hari Senin, Rabu dan Jumat Drive n Jive 87,6 HardrockFM Jakarta ada namanya #DnJkustik (Khusus hari Rabu nyanyi lagu Indonesia) dimana itu adalah segmen yang ditunggu oleh kami (bukan kalian) karena kami bisa nyanyi dengan suara seadanya, a to the min. Amin.

Karena bulan puasa, maka dari itu kami akan cover lagu religi.

DnJ Team:
Gofar Hilman (@pergijauh) vokal, gendang
Andira Pramanta (@andiraa) gitar, suara “hey!”

Produser: Satya Kocil Permana (@satyaapermana)dan Bobby Mandela (@BobbyMandela)

Jakarta Renta

Kampung gue di Setiabudi Jakarta Selatan, rumah gue dibangun ketika era kemerdekaan Republik Indonesia, pada saat itu di sekelilingnya masih rawa dan sawah. Di rumah ini yang bangunannya kental dengan adat betawi, enggak beda jauh sama rumah di sitkom Si Doel, empat generasi tumbuh termasuk gue. Uniknya, di bawah rumah gue terdapat bunker yang dibuat untuk mengantisipasi kalau-kalau pesawat Jepang akan ngebom, nenek gue dan ayahnya pada jaman  itu memang insecure tingkat tinggi :D

Gue pribadi cukup mengenal daerah Setiabudi, dari masa kecil dihabiskan di kebon pohon sengon di depan wisma Foba, mencari kijing di waduk Setiabudi, main sepeda BMX modif Chopper di Landmark, sampai ikut-ikutan temen ngojek payung di Kuningan.

Gue inget banget pada saat kecil dulu ada bioskop di daerah Setiabudi, gue lumayan sering nonton di situ, dengan harga tiket 1.000 perak gue habiskan untuk nonton American Ninja 1, Karate Kid 1 sampai film-film Rhoma Irama. Sebelum nonton, kronologisnya mungkin hampir sama dengan saat sekarang ini, cuma dengan kemasan lebih generik, menunggu film mulai main dingdong games pesawat 1942  memakai koin seratus perak gambar wayang dengan sistem curang, koin gantung.

Bioskop Setiabudi, gedung tua dengan kualitas seadanya, tempelan poster-poster film dewasa, tukang palak dimana-mana dan sampah berserakan. Bagaimana suasana dalam bioskop? Oke, bangku-bangku bioskop menggunakan bangku Metro Mini, jejeran paling belakang bangkunya beda sendiri, memakai bangku panjang kayu persis yang dipakai di warung kaki lima, sepanjang film penonton boleh merokok dan boleh makan bakso/pangsit/somay di dalem bioskop. Kebayang, sepanjang film asep rokok ngebul dimana-mana dan tukang dagangan hilir mudik nganterin makanan atau ngambil mangkok kosong. Tradisi di bioskop sejenis pada jaman itu adalah ketika ada adegan film yang di sensor, penonton bersorak marah atau teriak “boooooo!” dan kalau ada adegan jagoan dateng terus mukulin musuh, penonton pada bersorak kegirangan diiringi tepok tangan.

Tahun 2007 rumah keluarga gue di Setiabudi dijual dan nasib kita menjadi standar nasib korban gusuran, nyokap pindah ke daerah pinggiran yaitu Cibinong dan gue sewa paviliun di Fatmawati. Setiabudi, dari awalnya jarang ada rumah sampai sekarang dikelilingin gedung tinggi dan kos-kosan 4 tingkat. Bukti bahwa Jakarta sekarang ini tambah padat yang disebabkan manusia yang hobi membuat manusia baru atau sentralisasi yang membuat pattern otak berfikir stereotip, Jakarta adalah sumber uang.

Jakarta tahun ini berusia 487 tahun, bukan lagi fase lucu-lucunya yang pantas dinyanyikan lagu “ala sonang-ala sonang” Benyamin S, tapi kota ini sudah sangat renta. Segala hiruk-pikuk problema yang terjadi setiap hari, satu yang dominan adalah permasalahan macet. Macet terjadi karena peningkatan jumlah kepemilikan kendaraan pribadi. Orang-orang yang lebih memilih untuk membeli kendaraan pribadi mungkin alasannya sama seperti gue, kita enggak punya angkutan umum yang layak, TransJakarta sepertinya kurang memenuhi, kita butuh angkutan darat yang cepat, mari berdoa bersama agar konflik antara Pemprov DKI dan Kemenpora berakhir, supaya pembangunan MRT berjalan cepat.

Gue percaya Tuhan menyukai orang idiot, buktinya, dia menciptakan begitu banyak. Mungkin itu alasan agar manusia bersabar atas manusia-manusia ignorant. Kita bisa lihat setiap hari angkot yang mempunyai supir tanpa kuping, yang mempunyai otak brilian berhenti sembarangan di hook jalan, pengendara motor yang tidak bisa membedakan warna lampu lalu lintas, pengendara motor yang sen kiri eh dia malah belok kanan, pengendara motor yang jalan di tengah jalan sambil ngobrol sama motor sampingnya dengan kecepatan siput, Bajay yang sok-sok masuk ke jalur motor sampai stuck enggak bisa jalan padahal gue yakin supirnya tau kalo dimensi bajay gak mungkin bisa masuk di jalur motor, pengendara mobil yang masuk jalur Busway, pengendara mobil yang jalan pelan karena asik ngetwit ngeluh macet di dalam mobil LCGC, sampai mobil yang parkir sembarangan di pinggir jalan menghalangi mobil lainnya.

Sekali lagi, kita butuh transportasi publik yang memadai, agar tidak terjadi situasi dimana DP motor murah hanya 300 ribu saja bisa bawa balik motor dan DP rendah mobil yang sekarang ini herannya tenor cicilan bisa sampai 6 tahun! By the way, saran gue ketika lo ingin memiliki mobil, pastikan tempat tinggal/kosan lo itu mempunyai tempat parkir, jangan sampai parkir sembarangan di pinggir jalan yang hanya menyisakan satu jalur saja. Konsekwensi lho, kalau punya mobil ya harus ada lahan parkir yang layak, kalau enggak ada, ya jangan maksa punya mobil.

Prediksi gue, Jakarta 50 tahun ke depan akan macet 24 jam, akhirnya pemerintah membangun flyover 5 tingkat, penerusan rencana mantan gubernur Wiyogo Atmodarminto dengan triple decker. Mobil murah mendominasi, pembangunan Subway enggak selesai karena kepentingan politik, ormas fasis tambah kuat, pemerintah bekerjasama dengan Skynet untuk mengontrol kota. Membuat Cyborg dengan Cyberdyne Systems ala Terminator. Dan kita berharap Imam Mahdi datang.

Berharap merevolusi kota, bisa dilakukan memang, tapi melalui proses yang sangat panjang, menurut gue yang terpenting sekarang ini adalah merevolusi diri kita. Macet yang ada bisa diatasi dengan cara menikmatinya. Bagaimana caranya? Ini yang udah gue lakuin: Pertama, bernyanyilah. Dengan bernyanyi suasana hati jadi senang, ketika lo di motor bernyanyilah saat melaju kencang dan ketika macet atau terkena lampu merah, volume nyanyi dikecilin dikit biar enggak malu. Kalau di mobil, lebih gampang, bernyanyilah dengan lantang, latih vibra suara, falsetto dan artikulasi. Ini berguna banget agar sewaktu-waktu lo karaoke bareng temen lo, lo udah jago atau ketika lo dipalak nyanyi pas kondangan, lo udah siap. Kedua, main dubbing-dubbingan. Lo liat situasi di depan lo, ketika ada orang bengong atau ada pengendara motor yang ngobrol dengan orang yang dibonceng ketika lampu merah, cobalah dubbing ala Spontan Uhuy, buatlah percakapan selucu mungkin, dengan melakukan ini lo bisa mengasah kreativitas lo.

Apapun yang terjadi, gue tetep cinta Jakarta. Gue lahir, dibesarkan dan mencari duit di kota ini, sama seperti lo, gue juga mengidam-idamkan Jakarta yang bebas macet. Jadi inget dulu almarhum nenek gue pernah berkata “sesama pendatang, dilarang ngeluh macet”.

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 11

Sepakbola Adalah Agama

Salah satu alat yang paling jitu untuk menyatukan perbedaan adalah sepakbola. Orang-orang bisa saling bergandengan bersama meneriakan kata “Golll!” atau “wasit goblok!” atau tos dan berpelukan ketika nonton bareng sepakbola meskipun enggak kenal satu sama lain. Coba lihat lagi, betapa kentalnya rasa nasionalisme muncul mendadak ketika melihat timnas bermain, sekali lagi bukti bahwa sepakbola memang alat pemersatu.

Euphoria sepakbola tak luput dari perhelatan besar seperti piala dunia, piala dunia ibarat lebaran dengan ketupat, tahun baru dengan terompet dan natal dengan film Home Alone. Piala dunia sepaket dengan maraknya para hooligan dan casual musiman, terbitnya para komentator bola di Twitter, munculnya para cewek-cewek cantik memakai jersey bola kesayangan yang kebanyakan memakai jersey Spanyol, karena satu hal: Pemainnya ganteng, kenapa enggak jersey Trinidad Tobago atau Pantai Gading, sih?

Di event besar seperti piala dunia, Euro, Champion, selain bisa mempersatukan manusia, di sisi lain yang gelap, juga bisa menimbulkan perpecahan. Bagi sebagian masyarakat, sepakbola sudah dianggap seperti agama, biasanya yang diberhalakan itu adalah klub bola, bukan negara. MU kalah, menjadi bulan-bulanan fans Liverpool dan Manchester City, Barca kalah menjadi bulan-bulanan fans Real Madrid. Awalnya main ceng-cengan atau ejek-ejekan antar fans, dari twitwar lama-lama bisa menimbulkan emosi yang berujung ngajakin ribut. Aneh?

Nah ini yang bikin gue bertanya-tanya, “Kok, bisa sampe segitunya ya? Gara-gara bola aja bisa berantem, apalagi yang mereka bela itu adalah klub bola luar negri, bukan klub bola sini”. Segala sesuatu yang berbau fanatik pasti akan ada namanya gesekan yang bisa menimbulkan konflik, karena menurut gue fans klub bola itu ibarat penggalan lirik Agnes Monica, ‘cinta ini kadang-kadang tak ada logika’. Persetan logika, pride harus nomor satu! *pret*

Yaudahlahya, kalem aja ya gak sih? Kalau Cuma sebatas- ceng-cengan ringan ya enggak apa-apa, bikin seru nontonnya malah, tapi kalo sudah terjadi bentrokan apalagi bentrokan fisik, pikir dua kali deh. Enggak guna juga. Kalo gue pribadi, gue enggak punya klub bola favorit, ketika gue favoritin sebuah klub bola, itu ada dasar yang realistis.

Pertama, gue lagi seneng memakai klub bola tertentu di games semacam Winning Eleven atau PES2014, ketika Ibrahimovic bertrisula dengan Adriano dan Crespo, gue favoritin Inter Milan, ketika ibrahimovic bertrisula dengan Eto’o dan Messi, gue favoritin Barca, ketika Ibrahimovic bertrisula dengan Robinho dan Pato, gue favoritin AC Milan dan sekarang gue favoritin PSG dengan trisula hebat Ibrahimovic, Lavezzi dan Cavani. Oke, gue suka Ibrahimovic, body balance-nya enak sih buat main dengan stik analog.

Kedua, gue favoritin sebuah klub bola tertentu itu karena gue sedang taruhan. Ya taruhan kecil lah, iseng-iseng, seru-seruan aja. Makanya, gue demen banget kalo taruhan sama orang yang fanatik sama klub bola tertentu, kalo klub bola jagoannya lagi dibawah angin, enggak pake voor-vooran juga tetap mau.

Hehe :p

-Gofar Hilman-

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 10

 

Matarmaja

Ada kalanya kita butuh liburan untuk menghilangkan sedikit penat dan untuk memenuhi aspek sebagai manusia normal. Liburan enggak perlu jauh dan enggak perlu lama-lama, cukup habiskan weekend dengan cara gateaway ke luar kota. Sesekali, tinggalkan liburan fancy dengan segala kenyamanan yang ada. Mengorbankan sedikit kenyamanan untuk keseruan yang luar biasa. Cari alternatif liburan baru yang seru. Lupakan liburan dengan pesawat, karena kereta bisa membuat satu cerita.

Tahun 2004, saat itu gue mendapat tawaran manggung di Malang, Jawa Timur. Ya lo tau lah, acara punk kolektif dengan budget patungan pastinya riders, akomodasi dan konsumsi juga enggak bisa macem-macem. Tapi liburan sekaligus manggung, pastinya seru, iyalah, dibayarin.  Ketika itu panitia memberikan kami uang untuk membeli tiket kereta Matarmaja (kami menyebutnya Teenager Eye), Matarmaja adalah kereta ekonomi Jakarta –Malang, dengan harga tiket hanya puluhan ribu rupiah. Di otak gue cuma satu pertanyaan, “seekonomi apakah kereta Matarmaja ini?”

Sayangnya, tiket sudah terjual habis, kami pun nekat berangkat ke stasiun Pasar Senen karena besoknya kami sudah harus manggung, bagaimanapun caranya, kami harus pergi ke Malang. Jumat siang kami berlimabelas berangkat menuju stasiun Pasar Senen, sesampainya di sana terlihat padatnya lautan manusia yang akan berangkat ke Malang, kami  menunggu kereta Matarmaja sekitar 30 menit. Terdengar voice over MC stasiun bahwa kereta Matarmaja jurusan Malang telah tiba. “Oh, ini lho yang namanya kereta Matarmaja”.

Perjuangan pertama, masuk ke dalam kereta. Dengan tas ransel di gendong di depan, menyeruduk orang-orang yang enggak sabaran seperti bermain American Football, peluh bermunculan bercampur dengan peluh dari orang-orang sekitar yang membawa kardus sampai ayam hidup, aroma minyak angin nenek-nenek dan aroma keringet tukang, santer menjadi satu. Perjuangan berhasil, akhirnya kami bisa masuk ke dalam kereta.

Kereta Matarmaja, kereta tua dengan karat dimana-mana, kursi penumpang yang sebagian besar rusak, kaca jendela yang pecah. Kami mencari spot yang paling enak untuk berdiri, pilihan jatuh di depan wc. Di depan wc yang pintu wcnya rusak enggak bisa ketutup. Wc kereta Matarmaja ini ibarat wc penjara Alcatraz di film-film, besi karat dan (sorry) kotoran manusia tersebar di dinding wc, sampai gue bertanya dalam hati, “apakah ada mutant yang buang air besar lewat pori-pori?” dan gue harus bertahan selama 16 jam di sini? Oke.

Perjuangan kedua, menghadapi penjaga kereta. Karena kami enggak punya tiket, kami pastinya deg-degan, terlihat penjaga kereta di ujung gerbong sudah mengecek tiket penumpang satu persatu. Tiba giliran kami. “Tiketnya, mas” tanya penjaga kereta, “Hehe, enggak ada pak’ ucap gue. Dengan memakai sistem ‘bayar di atas’, lobi-lobi sedikit memelas, akhirnya kami bisa bayar ‘tiket berdiri’.

Perjuangan ketiga, bertahan hidup. Berdiri berdesakan dengan tas digendong di depan, insecure akan kemananan, mungkin ini satu-satunya momen dimana gue bisa tidur dalam keadaan berdiri. Di tengah lelapnya tidur sambil berdiri, seketika itu gue dikagetkan oleh sentuhan tangan di muka gue, “Beuh, apa-apaan nih?!”, ternyata ada pengemis tunanetra yang meminta uang di sela himpitan manusia, “Dek, minta uang, dek, bapak belom makan” ucap pengemis itu dengan nada lirih, “Nih, pak, goceng” balas gue sambil menghitung-hitung uang minimalis di dalam dompet dengan setengah perasaan enggak ikhlas, “Yah, dosa kan nih gue enggak ikhlas” ucap gue dalam hati.

Hari sudah malam, kereta berhenti di stasiun Cirebon, kami berlarian turun untuk rebahan dan meluruskan kaki, ahh.. surga ternyata sederhana. Perut pun mulai keroncongan Rama Aipama, di samping gue ada tukang gorengan, “Pak, tahu berapa pak?” tanya gue, “Ceban, dek” ucap bapak penjual gorengan, “Busettttt! Mao DP Ninja, pak?! Yaudah beli dua” dengan perasaan kesal gue menyantap gorengan tersebut sambil ngitungin uang dalam dompet. Ketika asik makan, tiba-tiba ada orang lari-lari kecil melangkahi kaki gue yang sedang rebahan, “Permisiiii dekkkkk”. Eh, kaya kenal, itu kan, itu kan… pengemis buta yang tadi! Kok bisa melek? Sialan gue kena tipu! Pantesan gue enggak ikhlas! – dan pengemis itu pun lari sambil cengengesan.

Bergerutu sumpah serapah gue dan teman-teman naik lagi ke dalam kereta yang akan melanjutkan perjalanan. Waktu menunjukkan pukul 3 pagi, di dalam kereta terlihat sudah tidak banyak orang seperti tadi, kemungkinan pada turun di stasiun Cirebon. Wah, kesempatan tidur nih gue. Woohooo! Dengan menaruh tas sebagai bantal, lalu gue tidur di tengah-tengah lantai kereta tempat orang jalan, udah malam ini, gak mungkin kan orang lalu-lalang, pasti pada tidur di kursinya masing-masing. Mata pun terpejam secara perlahan sambil tersenyum, dan 15 menit kemudian… “WARU DOYONG KANG MAS PINGGIR KALI, GUPRAK DUNG DUNG JOSS!” ternyata di gerbong sebelah ada penumpang nanggep pengamen dangdut koplo aja lho. *meneteskan air mata*

Dua jam berlalu, akhirnya dangdutan koplo pun berhenti, saatnya kembali melantai (note: melantai, literally). Rebahan di tengah lantai kereta dan akhirnya gue tertidur. Satu jam tertidur, tiba-tiba gue tersentak terbangun karena kepala gue keinjek. “NASI NASINYA PAK BU, AKUA MIJON KOLA, CANGCIMEN, ROKOK ROKOK!” “MAS, KALO TIDUR JANGAN DI TENGAH DONG! KAN BUAT ORANG JALAN”, tukas penjual yang sudah ramai menjajakan dagangannya. Huft.

Dengan perasaan kesal combo, gue pun duduk di kursi penumpang yang sudah kosong. Melamun, bengong terkadang ngobrol sama teman, menghabiskan waktu karena enggak bisa tidur. Berjam-jam terlewati, akhirnya kereta berhenti di stasiun Madiun. Mata yang sepet berair ini pun mulai semakin berat, saatnya tidur, mata mulai terpejam, kemudian… “TEPOK PRAMUKA PROK PROK PROK PROK PROKPROKPROKPROK!”, terlihat segerombol pramuka dengan kakak pembinanya masuk ke dalam gerbong kereta sambil meneriaki yell yell dan menyanyikan lagu Hymne Pramuka medley “SATYAKU KUDHARMAKAN, DHARMAKU  KUBAKTIKAN, AGAR JAYA INDONESIA, INDONESIA TANAH AIRKU JADI PANDU MU”.

Enggak jadi tidur lagi untuk kesekian kali. Akhirnya gue memesan kopi, merokok, memandangi pemandangan di luar jendela kereta sambil tersenyum dan berkata dalam hati. “Matarmaja, engkau maha humoris”

Hamdalah :)

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 09

 

Kuis #BioreMenInBright

Dear para runner metropolis, lari lagi in banget kan nih? Oleh sebab itu gue dan @IDMensBiore bikin kuis #BioreMenInBright di Twitter

caranya:

  • Peserta harus follow Twitter @IDMensBiore
  • Peserta harus twitpic foto bertema “Bright Clear” passionnya di kategori lari.
  • Berikan alasan/ deskripsi tentang twitpic tersebut.
  • Gunakan hashtag #BioreMenInBright
  • Jadi format jawaban yg benar harus memenuhi unsur: Twitpic foto bertema “Bright Clear”; mention gue di Twitter (@pergijauh) ; alasan foto twitpic; dan menggunakan hashtag #BioreMenInBright

Contoh:

image

Twit: Bright Clear gue adalah lari pagi memerangi kejahatan. @pergijauh​ #BioreMenInBright

  • Periode kuis #BioreMenInBright 15 – 26 Mei2014.
  • Di akhir periode akan dipilih 1 pemenang yang akan diumumkan 29 Mei 2014.
  • Pemenang akan ditentukan kreativitas dan kesesuaian foto dengan tema.
  • Foto yang dikirim tidak mengandung unsur kekerasan, pelecehan, pornografi dan tidak menyinggung SARA.
  • Foto yang dikirim tidak boleh melanggar hukum yang berlaku di Republlik Indonesia dan tidak boleh melanggar hak kekayaan intelektual milik pihak manapun juga. 
  • Penentuan diputuskan sepenuhnya oleh para dewan juri, yang bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
  • Hadiahnya adalah 1 paket “Special Kit” yang isinya:

Pebble Smartwatch Jetblack

image

Plantronics Backbeat Go

image

Fuelbelt Revenge R2O

image

note: sementara foto hadiah diambil dari Google

  • Pemenang yang beruntung akan dihubungi secara resmi oleh admin @IDMensBiore melalui twitter.

Gimana? Sekut kan? Letsgo ikutaaannn!

Setara Mata

“Don’t Hate The Media, Become The Media” itulah penggalan quotes dari Jello Biafra (Dead Kennedys).  Kebencian dan kemuakan terhadap media mainstream, media yang kebanyakan isinya hanyalah kebohongan publik, propaganda pemerintah, sampai stereotip gender. Orang-orang yang sudah muak ini membuat sebuah gerakan , yaitu membuat media independent yang bernama zine. Sebuah kultur tanding yang berbentuk media cetak foto kopian atau dari mesin cetak offset hasil tulisan tangan, mesin ketik atau komputer, dengan design cut-paste, ilustrasi tangan bahkan Corel Draw. Zine itu sendiri bisa dibagikan gratis, diperjual belikan atau barter.

Dan sesuai Judul diatas, yang diambil dari nama zine legendaris di Indonesia buatan seorang teman yang sangat inspiratif bernama Ika Vantiani. Sedikit cerita tentang Ika Vantiani, dia dikenal sebagai “Mother of Zine” di Indonesia karena kontribusinya yang sangat besar dalam dunia per-zine-an. Setara Mata zine pertama kali terbit pada tahun 2001, zine yang sangat vokal terhadap kesetaraan gender dalam kehidupan. Gue sendiri pernah nyumbang satu tulisan di zine itu. Kalo enggak salah tahun 2003. Kemungkinan besar Setara Mata adalah zine pertama yang konsisten membahas perempuan dalam konteks kesetaraan.

Ngomongin soal kesetaraan gender, menurut gue, jikalau ingin perempuan setara dengan laki-laki yang harus dilakukan adalah menghapuskan peraturan yang sifatnya boomerang bagi kesetaraan itu sendiri, seperti “Ladies Parking”. Gue pribadi enggak setuju sih ada peraturan ini, seperti mengisyaratkan bahwa perempuan adalah makhluk lemah yang harus parkir mobil dekat dengan pintu masuk mall. Gue yakin perempuan punya semangat yang sama dengan laki-laki dalam berjalan kaki. Terkecuali jika perempuan itu hamil, mungkin peraturan “Ladies Parking” diganti dengan “Pregnant Women Parking”. Lebih manusiawi.

Sama seperti di transportasi publik semacam kereta, TransJakarta, dll. Ingat kasus Dinda alias Dinda Kereta? Cewek jagoan yang tenar di Path karena enggak mau kasih tempat duduk ke ibu hamil yang harusnya menjadi prioritas di transportasi publik? Pasti inget, dong. Dia kabarnya dicariin Hammer Girl The Raid. Dinda berfikir kalo semua orang sama, yang duluan masuk ya dia yang dapet kursi. Dalam hal ini gue enggak sependapat sama Dinda, ibu hamil berhak mendapatkan tempat duduk di transportasi publik, ingat, bukan karena dia perempuan tapi karena dia hamil. Jelas beda.

Tapi seringkali gender menjadi senjata bagi masyarakat ignorant. Pernah suatu hari gue naik Kopaja, sisa satu kursi dan gue duduk di situ. Tak lama kemudian naiklah cewek yang berdandan ala anak kuliahan, dia berdiri di sebelah kursi gue karena enggak kebagian tempat duduk. 5 menit berlalu, tiba-tiba dia ngomong ke gue dengan nada agak tinggi “Mas, enggak punya otak ya? Cewek diri dikasih duduk, kek! Enggak gentleman banget sih!”, lalu gue jawab dengan nada santai “Emang kenapa kalo situ cewek? Harus dikasih tempat duduk? Situ masih sehat walafiat, kecuali kalo situ hamil atau sakit baru gue kasih. Situ hamil?”

Begini, bukan permasalahan dia cewek dan gue harus kasih tempat duduk. Sekali lagi kalo dia memang hamil atau sakit gue akan kasih dengan sukarela. Enggak harus cewek, cowok sakit ataupun opa-opa tua renta yang terlihat enggak sanggup berdiri pun akan gue kasih. Inilah salah satu contoh kasus ketika perempuan menggunakan keperempuanannya untuk “menindas”.

Enggak akan pernah terjadi kesetaraan gender jikalau perempuan harus diperlakukan prioritas. Maka dari itu gue enggak pernah percaya juga sama yang namanya jargon “Ladies First”. Membukakan pintu untuk perempuan, mempersilahkan perempuan untuk keluar lift terlebih dahulu, atau menarik kursi untuk perempuan. Terus, kalo enggak diperlakukan seperti itu mereka akan  bilang “Kan gue cewekkkk, kok lo gitu, sih?!”. Girls, percaya deh. Semakin lo diperlakukan Ladies First, semakin lo dianggap lemah.

Sayangnya, secara enggak langsung diskriminasi gender itu gue alami sebagai laki-laki, banyak hal yang seolah sah jika dilakukan oleh perempuan tapi enggak buat laki-laki. Cewek masang avatar Twitter mamerin cleavage, pasti banyak followersnya. Cowok masang avatar topless, paling disangka gay. Atau cewek ngetwit porno, dianggap perfect, tapi kalo cowok ngetwit porno, disangka pervert. Cowok blak-blakan ngajak ‘tidur’ cewek, dibilangnya buaya darat, tapi kalo cewek blak-blakan ngajak ‘tidur’cowok, dibilangnya budaya barat.

Mari kita buat setara. Yuks!

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 08

Olahraga-Olahgaya

Sehat itu mahal? Enggak, sih, lebih tepatnya sakit itu mahal. Biaya dokternya, belum lagi biaya obatnya, dan yang paling mahal itu pantangan makanannya, secara gue doyan banget makan. Nah, kalo sehat itu murah, tinggal olahraga, makan sayuran yang harganya lebih murah daripada daging atau jeroan. Ok, olahraga dan makanan sehat, seperti enggak menarik. Kita butuh sesuatu untuk menarik massa agar lebih sehat. Kita butuh trend!

Trend selalu menjadi alasan yang jitu untuk merubah mindset orang-orang kelas A-B yang konsumtif. Trend adalah pelatuk untuk massa yang haus akan eksistensi. Kita butuh trend agar dunia lebih sehat. Dalam hal ini, trend berolahraga adalah jawabannya. Dimulai ketika sepeda kembali digandrungi, yang waktu kecil dahulu kita mengenal sepeda dengan sistem doltrap, kemudian bereinkarnasi dengan kemasan yang lebih catchy bernama Fixed Gear.

Fixed Gear ibarat kontaminasi virus Umbrella Corp dalam tubuh manusia, menciptakan zombie-zombie dadakan pecinta sepeda warna-warni yang parts-nya bisa mencapai jutaan rupiah. Dalam angle berbeda, trend Fixed Gear itu bagus karena orang jadi bangun pagi pada hari Minggu untuk ngeceng di tempat pengecengan bernama Car Free Day. Pedagang juga pastinya ikut menikmati trend Fixed Gear ini, dimana pedagang sepeda bekas kebanjiran pesanan frame sepeda ukuran 52.

Sekarang ini, Fixed Gear turun drastis peminatnya, atau lebih tepat, kastanya. Pergeseran level A-B ke C-D mungkin dipelopori oleh kawanan yang lebih senang menyebut Fixie daripada Fixed Gear dengan custom-an sepeda generik plus tas Supreme Life Mesenger KW super plus headphone gede dengan logo bintang di kedua sisinya. Enggak ada masalah sama sekali memang, hanya saja hipster lokal merasa enggak terima ketika Fixed Gear sudah tak eksklusif lagi, aneh. Hanya anak-anak sepeda yang “roots banget” yang masih bertahan, konon (jangan dibalik), pesepeda Fixed Gear yang bosan, kini beralih menjadi pemotor CB custom  Cafe Racer dan Bratstyle (Btw, ini fenomena aneh, Bratstyle adalah nama bengkel di Jepang dan enggak tau kenapa di sini disalahartikan menjadi nama genre modifikasi).

Sekelompok militan-pergaulan yang enggak terima trend sepeda hilang ini butuh olahraga yang baru. Pilihan jatuh kepada olahraga lari. Siapa sangka olahraga lari yang biasa saja dan enggak menarik, sekarang jadi sesuatu yang hits banget. Coba kita perhatiin, dalam setahun ini ada berapa event lari 5K atau 10K? Secara harfiah, lari adalah olahraga yang paling murah, tapi kalau ngomongin soal pembuktian status sosial, olahraga lari bisa “dimahalkan”.

Legging lari DRI-Fit bisa mencapai diatas 1 juta, sepatu tipe Flyknit atau Roshe bisa diatas 2  juta, gelang atau jam penghitung skor lari bisa 1 jutaan dan untuk mendukung kegiatan lari, peran sosmed sangatlah berpengaruh. Sebelum lari, jangan lupa bawa smartphone, tongsis dan powerbank. Berat? Ya enggak masalah, yang penting 15% olahraga dan 85% foto-foto. Foto sepatu lari mahal lo dan share ke Instagram/Path/Twitter,  jangan lupa selfie dengan hashtag #OOTD dan tolong share capture-an skor lari lo di sosmed juga. Dengan begitu, lo akan sah menjadi seorang runner metropolis.

Pembuktian status sosial dengan memakai sosmed itu sangat massive efeknya, orang-orang bisa tahu lo orang yang “nyampe” apa enggak. Tak hanya di olahraga lari, peran sosmed juga wajib ada di olahraga yang sudah berubah menjadi gaya hidup seperti fitness, oh, salah, kata fitness sudah usang, mari ganti dengan kata ‘ngegym’.  Akan sangat sah ketika lo sudah ngetwit “It’s time to workout!” atau “Duh, PT gue posesip amat, galak pula!” atau “Siap-siap hari ini disiksa PT di gym! Huft”, jangan lupa untuk bikin minuman juice/smoothies buah-sayuran ala-ala lo lalu foto dan share ke 5 penjuru sosmed. Semakin aneh dan enggak enak juice/smoothies bikinan lo, semakin sah.

Selain sepeda, lari dan ngegym, olahraga menyelam juga enggak kalah populer. Terlihat semakin ramainya orang-orang datang ke Pulau Seribu seperti Pulau Pramuka, Tidung, Kotok Besar, Macan, Karimun Jawa atau yang lebih jauh lagi, Raja Ampat. Selain lo bisa foto kaki yang penuh taburan pasir pantai, di tempat ini lo bisa juga melakukan aktifitas camping. Untuk camping dengan level lebih tinggi, hiking ke gunung adalah pilihan selanjutnya.

Perkiraan gue, hiking juga akan populer. Dimana pecinta alam newbie seolah tertantang akan mendaki gunung dengan berjalan kaki diiringi lagu Paint in Black – Rolling Stones bak film seri 90an, Tour of Duty. Pilihan awal bisa dipastikan Gunung Gede. Kalau memang benar hiking akan sangat populer dan menjadi gaya hidup baru, apakah akan bernasib sama seperti olahraga lari? Ketika outfit seperti sepatu lari dan celana training telah menjadi fashion sehari-hari. Mungkin saja suatu hari kita akan melihat pemandangan di mall cewek cakep memakai celana cargo gombrong, slayer/bandana menutupi full kepala, sepatu hiking yang sangat mas-mas proyek, Ericsson Hiu dengan gantungan carabiner tercantol di celana, sambil membawa tas carier plus tenda dome dan jikalau ditambahkan lakban di ikat pinggang akan 11-12 sama kru lapangan.

Kalau begitu, kita lihat saja.

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 07

 

Street Gig

Era 90an adalah era kebangkitan musik indie lokal Indonesia khususnya Jakarta, dimana venue-venue gig semacam Harley Davidson cafe, kafe Kupu-Kupu, M Club, Lipstick Cafe sampai CBGBnya Jakarta, Poster Cafe menjadi langganan tempat acara untuk musik-musik ‘bawah tanah’. Band-band yang manggung di tempat tersebut kebanyakan bergenre HC, Punk, Grunge, Ska dan Indies (gak tau kenapa nama Indies berubah menjadi Britpop dan kemudian sekarang lebih dikenal sebagai Indiepop) dimana pada saat itu mereka berlomba-lomba ingin unjuk gigi di acara-acara tersebut, bahkan anehnya pada masa itu dibuka pendaftaran untuk menjadi band featuring. Kasarnya, bayar uang ke panitia buat bisa manggung.

Band-band kecil yang belum punya nama akan susah untuk manggung, apalagi semakin hari, cafe-cafe yang jadi langganan untuk bikin gig tutup satu persatu karena bangkrut. Memang, diakui kalau bikin gig dengan genre semacam ini susah untungnya bagi pemilik cafe, selesai acara pasti ada sound yang rusak,  terlebih lagi minimnya apresiasi para pengunjung yang datang untuk membeli tiket, sore dikit, minta jebolan. Tiket aja susah, apalagi beli minuman di dalam?

Awal tahun 2000, Melihat kondisi ini, gue dan temen-temen gue yang biasa nongkrong di taman Suropati dan Jembatan Merah Saharjo kangen akan acara-acara model tersebut. Lalu kepikiran lah untuk bikin acara iseng-iseng sendiri, awalnya ide kasar “Eh, bikin gig yuk dipinggir jalan, seru kali ya?” lalu  berlanjut ke diskusi dan ngumpulin alat band. Yang punya drum, gitar, bas, ampli, mic, dll, dikumpulkan jadi satu. Kami pun mulai hunting tempat yang enak untuk menggelar konser dadakan di pinggir jalan. Tempat pertama yang kami temukan adalah di samping Bidakara, Pancoran. Minggu depannya, akan mulai Street Gig pertama kami. Excited!

Ketika hari H, alat-alat sudah dikumpulkan dan sudah dipasang di atas trotoar, band yang manggung saat itu ada Snacky, Quarter Out, Social Distrust, dll. Ketika band pertama mulai memainkan lagu pertamanya, tiba-tiba datang sekelompok pemuda yang memakai sorban membubarkan paksa gig kami. Kami pun enggak bisa ngelawan, karena selain kalah jumlah, kami juga enggak punya dasar hukum kuat soal izin dari pihak kepolisian. Kami mulai membereskan alat-alat band, menaruhnya di rumah salah seorang teman lalu pergi ke Taman Suropati.

Kekecewaan pun datang, tapi kami tidak menyerah.

Konsolidasi ke dalam, memikirkan strategi-strategi jitu untuk memulai membuat gig baru dengan model “gerilya”. Lalu teman-teman nongkrong di Jembatan Merah yang notabenenya kebanyakan anak Punk, punya ide untuk manggung di jalanan pasar Jembatan Merah. Yup manggung di pasar. Kebetulan salah satu teman kami bernama Dekoy, kalau siang berjualan sayur di lapak di pasar tersebut. Anak punk jualan sayur dengan rambut mohawk, canggih. Lapak dia kita pinjam pada malam hari ketika malam minggu. Alat-alat dikumpulkan di depan lapak tersebut, listrik sudah tersedia dari lapak dan satu persatu band perform. Ada The Borstal, Agressor, The Stupid, No Comment, The Frontier, The Brain, Proletar dan Social Distrust.

Seketika lapak pasar disulap jadi Street Gig.

 Semenjak itu, kami mulai rutin sebulan 2 kali membuat Street Gig di pasar Jembatan Merah Saharjo. Selain Jembatan Merah, kami mulai berekspansi mencari ‘trotoar’ baru untuk Street Gig, tempat kedua yang kami buat berada di samping Pasar Festival (sekarang Plaza Festival), kaderisasi sangat diperlukan dalam pembuatan Street Gig, mendekati akamsi (anak kampung sini) sangat perlu. Karena jika ada pihak berwajib yang datang, temen-temen akamsi akan membantu menyelesaikan. Street gig pertama di tempat ini berhasil, lalu jalanan Pasar Festival menjadi tempat Street Gig baru kami.

Band-band yang manggung di Street Gig kami sudah semakin banyak, sudah mulai mengundang band-band di luar tongkrongan kami bahkan kami pernah mengundang band Grindpunk asal Jerman, Wojczech. Wojczech sangat antusias ketika tahu akan perform di jalanan, bahkan sang drummer membantu menyambungkan kelistrikan dari sound dengan memanjat tiang listrik.

Street Gig sudah mulai populer, teman-teman di daerah lain juga bikin hal yang serupa, mereka mulai bikin gig di pinggiran rel kereta api Jatinegara (lapak Iil), Kebon kosong depan Regent (sekarang Four Seasons) Setiabudi, Kebon anak-anak Miracle Ciledug, jalanan depan Kampus Perbanas, jalanan di seberang Universitas Pancasila, dll, bahkan di seberang Universitas Pancasila ini pernah manggung musisi Ballad-Punk asal Australia, Steve Towson.

Sekarang ini gue sendiri sudah kurang aktif mengikuti perkembangan Street Gig, tapi dari informasi teman-teman, Street Gig saat ini sudah tidak seramai dulu, yang masih aktif cuma di daerah Jatinegara dan daerah Tangerang.

Street Gig itu sendiri sebenarnya adaptasi dari kultur band-band HC/Punk di luar negeri yang manggung di garasi atau di studio band dengan konsep Player Watch Player, band yang main juga enggak banyak. Karena jargon DIY (Do It Yourself) bukan sekedar kalimat template keren-kerenan atau sekedar tagline wajib pada lirik lagu.

Daripada nunggu gig, mending bikin.

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 06

image

Ups, ketahuan!

Sepertinya Jepang negara yang kepingin lain sendiri, dari penamaan Invasi yang sangat nasionalis, di bidang musik contohnya, dengan penambahan huruf ‘J’ di depan genre musik, J-Rock alias Japan Rock (Btw, untuk band Indonesia, J-Rocks. Penamaan genre menjadi nama band itu menurut gue agak aneh. Seperti lo bikin band baru dengan nama “Grindcore”), J-Pop untuk musik popnya, J-Rap sampai JAV. Oke, yang terakhir bukan genre musik, tapi industri porno, Japan Adult Video. Porno yang tetap dalam konteks nasionalis.

Industri porno khas Jepang. Sangat khas mulai dari desahan aktris perempuan yang berteriak melengking seperti orang yang akan melahirkan, sensor blur kotak-kotak mozaik pada bagian tertentu, adegan menebak tubuh kerabat sendiri dalam gameshow incest, om-om pervert bermuka jelek melakukan percakapan persuasif di dalam spa kepada gadis muda cantik (kenapa gue merhatiin cowoknya, ya? Lupakan) sampai BDSM Sukatoro yang berhasil membuat gue gak makan selama 2 hari.

Dengan semua keunikannya itu, gak heran kalau industri porno Jepang menguasai 20% film porno di dunia. Industri porno di Jepang ternyata menjadi salah satu sumber pemasukan negara tersebut dan membantu ketika negara Jepang tengah dilanda resesi ekonomi.

Video yang penuh dengan sensor mozaik mungkin bisa dikatakan ‘bokep untuk pemula’, bagi yang cukup umur tentunya. *senyum menyeringai*. Tapi pada era 90an, melihat bokep gak semudah seperti sekarang ini. Sekarang, tinggal download atau streaming di internet, anteng deh liatin akting Hitomi Tanaka. Jaman dulu, hanya ada betamax atau laserdisc yang segede tromol traktor. Bayangin coba susahnya ngumpetin kalo lagi nyewa di rental?

Bokep untuk pemula jaman itu, mungkin cuma gremet-gremet selentingan adegan pada film-film macam Basic Instinct, lalu merambah ke tingkat yang lebih tinggi macam Caligula atau Emanuelle. Reaksi kimia pada saat nonton bokep pertama kali mungkin lo dah tau, keringetan, gugup, deg-degan lalu menuju pada aktivitas yang namanya masturbasi.

Untuk masyarakat akil balig, pengalaman masturbasi pertama kali mungkin gak terlalu diinget. Tapi bagaimana kalau pengalaman ketahuan masturbasi oleh bokap/nyokap pertama kali? Pasti diinget sampe akhir hayat! Banyak pengalaman lucu dan unik ketika pertama kali ketahuan masturbasi oleh orang tua.

Pengalaman dari seorang teman yang tengah asik masturbasi melihat video Tera Patrick di kamar tidur bokapnya, lalu ketahuan dan disuruh push-up sampai otot trisep bengkak. Ada juga yang pernah ketahuan masturbasi lalu disuruh nguras kolam ikan koi sama nyokapnya.

Ketahuan masturbasi bisa diakali dengan akal cerdik, contoh teman gue, saat dia tengah masturbasi dan ketahuan nyokapnya, dengan sigap dia matiin video player dengan jempol kaki kanannya lalu akting mengeluh kesakitan, ketika ditanya nyokapnya “kamu kenapa, nak?” , “aduhh burungku kejepit seleting nih, sakit banget aku nyari obat gak ada” balasnya dengan nada lirih.

Tindakan ala militer seperti suruh push-up atau bersihin kolam ikan itu apakah tindakan tepat untuk remaja yang ketahuan masturbasi? Apakah pendidikan seks di negara kita masih tabu sekarang ini? Mudah-mudahan jauh lebih baik, tidak seperti yang teman-teman gue alami.

Daritadi gue sibuk bercerita tentang pengalaman temen-temen gue ketahuan masturbasi oleh orangtuanya. Bagaimana dengan gue? Oh, tenang. Gue ada satu pengalaman memalukan yang gak akan gue lupain seumur hidup. Begini ceritanya..

Suatu hari gue meminjam kaset betamax bokep teman gue, dengan semangat membara berlari slowmotion menuju rumah sambil diiringi bagpipe oleh musisi Irlandia menuju kemenangan akan misi kenegaraan nomor satu, nonton bokep.

Sesampainya di rumah gue yang lagi sepi itu, gue pun menuju ruang tamu. Ruang tamu gue berukuran 6x5 meter, dengan televisi merk Grundig plus atribut betamax player berada di tengah, jendela di samping kanan televisi dan di sisi berlawanan depan televisi. Kaset bokep pun dimasukan, tekan tombol play dan mulai nonton. Lalu masturbasi dimulai.

20 menit berlalu.

 Tanpa menghiraukan keadaan sekitar gue tetap konsentrasi apa yang sedang gue lakukan. Tiba-tiba terdengar suara nyokap ketawa-ketawa kecil dari jendela di belakang gue, dan dia pun bilang..

“Far, asik banget nyekek tuyulnya”

Oh, my.

Gofar Hilman

 Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 05

Straight Edge: Good or Too Much?

Oke, kesampingkan dulu pikiran stereotype kalian tentang anak-anak musik cadas yang identik dengan drugs, alkohol dan sejenisnya, karena saya akan berbicara tentang Straight Edge.

Sebelumnya, saya mau jelaskan sedikit apa itu Straight Edge. Straight Edge lahir di awal tahun 80an dalam sub kultur Hardcore/punk. Kemuakan sekelompok anak muda akan situasi dimana teman-teman dan saudara-saudara mereka meninggal karena drugs. Aksi pemberontakan untuk menolak drugs ini semakin kuat ketika bermunculan band-band seperti Teen Idles dan Minor Threat yang bersuara tentang gaya hidup baru yang lebih sehat.

Kaum Straight Edge biasanya menandai punggung tangan mereka dengan simbol “X”. Penandaan simbol ini berawal di sebuah club bernama Mabuhay Gardens, San Fransisco dimana Teen Idles akan manggung, pihak club memberikan  tanda “X” di punggung kedua tangan mereka sebagai tanda masih dibawah umur, dan pekerja di club tersebut tidak diperbolehkan memberikan alkohol kepada mereka. Kebiasaan ini mulai diikuti oleh club-club lainnya dan dalam beberapa tahun tanda “X” di tangan menjadi simbol yang pride untuk kaum Straight Edge.

Straight Edge adalah sikap politis, paham dimana anda memilih komitmen untuk hidup sehat, tidak mengkonsumsi drugs, alkohol, tidak merokok dan tidak melakukan seks.

Yang jadi sorotan saya soal komitmen Straight Edge adalah bukan di anti drugs/alkohol dan anti rokoknya, tapi di permasalahan seks. Masa iya kultur barat yang notabenenya sangat liberal tapi mengumandangkan hal tersebut? Secara harfiah, Straight Edge memang seperti itu. Mungkin dasar ideologi tersebut ada karena  penggalan lirik Minor Threat – Out of Step “I don’t drink, I don’t smoke, I don’t fuck”

Kalau begitu, saya akan kaji penggalan lirik sehat tersebut dengan akal sehat saya.

I don’t drink: Saya tidak mau minum-minuman beralkohol.

I don’t Smoke: Saya tidak mau merokok.

I don’t fuck: Saya tidak melakukan seks! Eh, tapi..

Berpacu dalam konteks Anti-Promiscuity yang dalam benak kita pasti terpikir hipokrasi dan irrasional. Karena pada kenyataannya ternyata Anti-Free Sex pada Straight Edge menurut saya adalah satu-satunya self rule yang “bisa dikondisikan”. Dari pengakuan temen-temen Straight Edge yang saya kenal, ada yang tidak melakukannya sama sekali sampai nikah, ada yang melakukannya hanya sama pasangannya saja, dan ada juga yang melakukan casual-sex atas dasar suka sama suka. Well, seks itu pilihan. Pilihan yang susah untuk ditolak.

Di Indonesia, ideologi Straight Edge dimulai pada awal tahun 90an, dimana band-band Straight Edge bermunculan seperti Straight Answer, Thinking Straight (Jakarta), Blind To See (Bandung) dan Violent Order (Malang). Pengaplikasian Straight Edge di Indonesia sedikit banyaknya dipengaruhi oleh faktor agama yang kental akan pelarangan serupa dan dikembalikan lagi pada kontrol individu masing-masing.

Pada tahun 2002 saya sendiri pernah bermain drum untuk salah satu band Straight Edge di Jakarta, pada tahun 2006 saya memutuskan untuk keluar dari band tersebut karena pada akhirnya saya merasa tidak nyaman. Di panggung mereka selalu bersuara tentang Straight Edge, sedangkan saya di belakang drum dalam keadaan mabuk :p

Straight Edge di Indonesia sekarang ini semakin banyak jumlahnya, mereka tidak berkubu dan tidak bergaul secara eksklusif. Fenomena aneh dan lucu yang terjadi di Indonesia saat ini adalah Straight Edge seringkali disangka brand/merk clothing, dengan banyaknya pertanyaan “beli merch Straight Edge dimana ya?”. Hal ini terjadi karena kurangnya edukasi atau memang pada dasarnya orang tersebut nyaman di fase poser, tidak mau mencari tahu arti dari filosofi Straight Edge itu sendiri.

Bersuara tentang hal yang anda yakini itu sah-sah aja, asal fanatisme anda tidak berlebihan bahkan menganggap orang lain yang tidak sepaham dengan anda adalah musuh. Seperti sekelompok Straight Edge militan di Boston yang menamakan diri mereka FSU (Friends Stand United), mereka memukuli orang-orang yang mabuk, merokok atau mengeroyok orang yang habis pulang party dari night club. Kemudian pada akhirnya FSU ini sendiri malah dibenci di  skena Straight Edge itu sendiri. “Friends Stand United turned out to be Fuck Shit Up

Berlebihan tidak sih ketika ada sekelompok anak Hardcore/punk yang berbicara tentang hidup sober? Mereka sok suci? Atau merasa orang yang paling bener? Jawabannya adalah tergantung. Kalau soal band Straight Edge yang membuat lirik lagu dengan menyuarakan hidup sober atau memakai kaos bertuliskan “Smoking Isn’t Cool Anymore” tapi mereka tetap menghormati kawan-kawannya yang bukan Straight Edge, itu bagus. Akan berlebihan ketika mulai melakukan tindakan-tindakan disrespect seperti yang dilakukan kelompok FSU di Boston. Intinya adalah menghargai satu sama lain.

Saya sendiri salut sama orang yang punya komitmen dan menjalani komitmennya itu sampai saat ini. Karena menurut saya, komitmen itu tidak sekedar komat-kamit, tapi harus komit.

Gofar Hilman

Artikel ini bisa dilihat di majalah Esquire edisi Maret 2014

About

PERGIJAUH Follow Me at Twitter @pergijauh

Following

Top