PERGIJAUH

PERGIJAUH

Street Gig

Era 90an adalah era kebangkitan musik indie lokal Indonesia khususnya Jakarta, dimana venue-venue gig semacam Harley Davidson cafe, kafe Kupu-Kupu, M Club, Lipstick Cafe sampai CBGBnya Jakarta, Poster Cafe menjadi langganan tempat acara untuk musik-musik ‘bawah tanah’. Band-band yang manggung di tempat tersebut kebanyakan bergenre HC, Punk, Grunge, Ska dan Indies (gak tau kenapa nama Indies berubah menjadi Britpop dan kemudian sekarang lebih dikenal sebagai Indiepop) dimana pada saat itu mereka berlomba-lomba ingin unjuk gigi di acara-acara tersebut, bahkan anehnya pada masa itu dibuka pendaftaran untuk menjadi band featuring. Kasarnya, bayar uang ke panitia buat bisa manggung.

Band-band kecil yang belum punya nama akan susah untuk manggung, apalagi semakin hari, cafe-cafe yang jadi langganan untuk bikin gig tutup satu persatu karena bangkrut. Memang, diakui kalau bikin gig dengan genre semacam ini susah untungnya bagi pemilik cafe, selesai acara pasti ada sound yang rusak,  terlebih lagi minimnya apresiasi para pengunjung yang datang untuk membeli tiket, sore dikit, minta jebolan. Tiket aja susah, apalagi beli minuman di dalam?

Awal tahun 2000, Melihat kondisi ini, gue dan temen-temen gue yang biasa nongkrong di taman Suropati dan Jembatan Merah Saharjo kangen akan acara-acara model tersebut. Lalu kepikiran lah untuk bikin acara iseng-iseng sendiri, awalnya ide kasar “Eh, bikin gig yuk dipinggir jalan, seru kali ya?” lalu  berlanjut ke diskusi dan ngumpulin alat band. Yang punya drum, gitar, bas, ampli, mic, dll, dikumpulkan jadi satu. Kami pun mulai hunting tempat yang enak untuk menggelar konser dadakan di pinggir jalan. Tempat pertama yang kami temukan adalah di samping Bidakara, Pancoran. Minggu depannya, akan mulai Street Gig pertama kami. Excited!

Ketika hari H, alat-alat sudah dikumpulkan dan sudah dipasang di atas trotoar, band yang manggung saat itu ada Snacky, Quarter Out, Social Distrust, dll. Ketika band pertama mulai memainkan lagu pertamanya, tiba-tiba datang sekelompok pemuda yang memakai sorban membubarkan paksa gig kami. Kami pun enggak bisa ngelawan, karena selain kalah jumlah, kami juga enggak punya dasar hukum kuat soal izin dari pihak kepolisian. Kami mulai membereskan alat-alat band, menaruhnya di rumah salah seorang teman lalu pergi ke Taman Suropati.

Kekecewaan pun datang, tapi kami tidak menyerah.

Konsolidasi ke dalam, memikirkan strategi-strategi jitu untuk memulai membuat gig baru dengan model “gerilya”. Lalu teman-teman nongkrong di Jembatan Merah yang notabenenya kebanyakan anak Punk, punya ide untuk manggung di jalanan pasar Jembatan Merah. Yup manggung di pasar. Kebetulan salah satu teman kami bernama Dekoy, kalau siang berjualan sayur di lapak di pasar tersebut. Anak punk jualan sayur dengan rambut mohawk, canggih. Lapak dia kita pinjam pada malam hari ketika malam minggu. Alat-alat dikumpulkan di depan lapak tersebut, listrik sudah tersedia dari lapak dan satu persatu band perform. Ada The Borstal, Agressor, The Stupid, No Comment, The Frontier, The Brain, Proletar dan Social Distrust.

Seketika lapak pasar disulap jadi Street Gig.

 Semenjak itu, kami mulai rutin sebulan 2 kali membuat Street Gig di pasar Jembatan Merah Saharjo. Selain Jembatan Merah, kami mulai berekspansi mencari ‘trotoar’ baru untuk Street Gig, tempat kedua yang kami buat berada di samping Pasar Festival (sekarang Plaza Festival), kaderisasi sangat diperlukan dalam pembuatan Street Gig, mendekati akamsi (anak kampung sini) sangat perlu. Karena jika ada pihak berwajib yang datang, temen-temen akamsi akan membantu menyelesaikan. Street gig pertama di tempat ini berhasil, lalu jalanan Pasar Festival menjadi tempat Street Gig baru kami.

Band-band yang manggung di Street Gig kami sudah semakin banyak, sudah mulai mengundang band-band di luar tongkrongan kami bahkan kami pernah mengundang band Grindpunk asal Jerman, Wojczech. Wojczech sangat antusias ketika tahu akan perform di jalanan, bahkan sang drummer membantu menyambungkan kelistrikan dari sound dengan memanjat tiang listrik.

Street Gig sudah mulai populer, teman-teman di daerah lain juga bikin hal yang serupa, mereka mulai bikin gig di pinggiran rel kereta api Jatinegara (lapak Iil), Kebon kosong depan Regent (sekarang Four Seasons) Setiabudi, Kebon anak-anak Miracle Ciledug, jalanan depan Kampus Perbanas, jalanan di seberang Universitas Pancasila, dll, bahkan di seberang Universitas Pancasila ini pernah manggung musisi Ballad-Punk asal Australia, Steve Towson.

Sekarang ini gue sendiri sudah kurang aktif mengikuti perkembangan Street Gig, tapi dari informasi teman-teman, Street Gig saat ini sudah tidak seramai dulu, yang masih aktif cuma di daerah Jatinegara dan daerah Tangerang.

Street Gig itu sendiri sebenarnya adaptasi dari kultur band-band HC/Punk di luar negeri yang manggung di garasi atau di studio band dengan konsep Player Watch Player, band yang main juga enggak banyak. Karena jargon DIY (Do It Yourself) bukan sekedar kalimat template keren-kerenan atau sekedar tagline wajib pada lirik lagu.

Daripada nunggu gig, mending bikin.

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 06

image

Ups, ketahuan!

Sepertinya Jepang negara yang kepingin lain sendiri, dari penamaan Invasi yang sangat nasionalis, di bidang musik contohnya, dengan penambahan huruf ‘J’ di depan genre musik, J-Rock alias Japan Rock (Btw, untuk band Indonesia, J-Rocks. Penamaan genre menjadi nama band itu menurut gue agak aneh. Seperti lo bikin band baru dengan nama “Grindcore”), J-Pop untuk musik popnya, J-Rap sampai JAV. Oke, yang terakhir bukan genre musik, tapi industri porno, Japan Adult Video. Porno yang tetap dalam konteks nasionalis.

Industri porno khas Jepang. Sangat khas mulai dari desahan aktris perempuan yang berteriak melengking seperti orang yang akan melahirkan, sensor blur kotak-kotak mozaik pada bagian tertentu, adegan menebak tubuh kerabat sendiri dalam gameshow incest, om-om pervert bermuka jelek melakukan percakapan persuasif di dalam spa kepada gadis muda cantik (kenapa gue merhatiin cowoknya, ya? Lupakan) sampai BDSM Sukatoro yang berhasil membuat gue gak makan selama 2 hari.

Dengan semua keunikannya itu, gak heran kalau industri porno Jepang menguasai 20% film porno di dunia. Industri porno di Jepang ternyata menjadi salah satu sumber pemasukan negara tersebut dan membantu ketika negara Jepang tengah dilanda resesi ekonomi.

Video yang penuh dengan sensor mozaik mungkin bisa dikatakan ‘bokep untuk pemula’, bagi yang cukup umur tentunya. *senyum menyeringai*. Tapi pada era 90an, melihat bokep gak semudah seperti sekarang ini. Sekarang, tinggal download atau streaming di internet, anteng deh liatin akting Hitomi Tanaka. Jaman dulu, hanya ada betamax atau laserdisc yang segede tromol traktor. Bayangin coba susahnya ngumpetin kalo lagi nyewa di rental?

Bokep untuk pemula jaman itu, mungkin cuma gremet-gremet selentingan adegan pada film-film macam Basic Instinct, lalu merambah ke tingkat yang lebih tinggi macam Caligula atau Emanuelle. Reaksi kimia pada saat nonton bokep pertama kali mungkin lo dah tau, keringetan, gugup, deg-degan lalu menuju pada aktivitas yang namanya masturbasi.

Untuk masyarakat akil balig, pengalaman masturbasi pertama kali mungkin gak terlalu diinget. Tapi bagaimana kalau pengalaman ketahuan masturbasi oleh bokap/nyokap pertama kali? Pasti diinget sampe akhir hayat! Banyak pengalaman lucu dan unik ketika pertama kali ketahuan masturbasi oleh orang tua.

Pengalaman dari seorang teman yang tengah asik masturbasi melihat video Tera Patrick di kamar tidur bokapnya, lalu ketahuan dan disuruh push-up sampai otot trisep bengkak. Ada juga yang pernah ketahuan masturbasi lalu disuruh nguras kolam ikan koi sama nyokapnya.

Ketahuan masturbasi bisa diakali dengan akal cerdik, contoh teman gue, saat dia tengah masturbasi dan ketahuan nyokapnya, dengan sigap dia matiin video player dengan jempol kaki kanannya lalu akting mengeluh kesakitan, ketika ditanya nyokapnya “kamu kenapa, nak?” , “aduhh burungku kejepit seleting nih, sakit banget aku nyari obat gak ada” balasnya dengan nada lirih.

Tindakan ala militer seperti suruh push-up atau bersihin kolam ikan itu apakah tindakan tepat untuk remaja yang ketahuan masturbasi? Apakah pendidikan seks di negara kita masih tabu sekarang ini? Mudah-mudahan jauh lebih baik, tidak seperti yang teman-teman gue alami.

Daritadi gue sibuk bercerita tentang pengalaman temen-temen gue ketahuan masturbasi oleh orangtuanya. Bagaimana dengan gue? Oh, tenang. Gue ada satu pengalaman memalukan yang gak akan gue lupain seumur hidup. Begini ceritanya..

Suatu hari gue meminjam kaset betamax bokep teman gue, dengan semangat membara berlari slowmotion menuju rumah sambil diiringi bagpipe oleh musisi Irlandia menuju kemenangan akan misi kenegaraan nomor satu, nonton bokep.

Sesampainya di rumah gue yang lagi sepi itu, gue pun menuju ruang tamu. Ruang tamu gue berukuran 6x5 meter, dengan televisi merk Grundig plus atribut betamax player berada di tengah, jendela di samping kanan televisi dan di sisi berlawanan depan televisi. Kaset bokep pun dimasukan, tekan tombol play dan mulai nonton. Lalu masturbasi dimulai.

20 menit berlalu.

 Tanpa menghiraukan keadaan sekitar gue tetap konsentrasi apa yang sedang gue lakukan. Tiba-tiba terdengar suara nyokap ketawa-ketawa kecil dari jendela di belakang gue, dan dia pun bilang..

“Far, asik banget nyekek tuyulnya”

Oh, my.

Gofar Hilman

 Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 05

Straight Edge: Good or Too Much?

Oke, kesampingkan dulu pikiran stereotype kalian tentang anak-anak musik cadas yang identik dengan drugs, alkohol dan sejenisnya, karena saya akan berbicara tentang Straight Edge.

Sebelumnya, saya mau jelaskan sedikit apa itu Straight Edge. Straight Edge lahir di awal tahun 80an dalam sub kultur Hardcore/punk. Kemuakan sekelompok anak muda akan situasi dimana teman-teman dan saudara-saudara mereka meninggal karena drugs. Aksi pemberontakan untuk menolak drugs ini semakin kuat ketika bermunculan band-band seperti Teen Idles dan Minor Threat yang bersuara tentang gaya hidup baru yang lebih sehat.

Kaum Straight Edge biasanya menandai punggung tangan mereka dengan simbol “X”. Penandaan simbol ini berawal di sebuah club bernama Mabuhay Gardens, San Fransisco dimana Teen Idles akan manggung, pihak club memberikan  tanda “X” di punggung kedua tangan mereka sebagai tanda masih dibawah umur, dan pekerja di club tersebut tidak diperbolehkan memberikan alkohol kepada mereka. Kebiasaan ini mulai diikuti oleh club-club lainnya dan dalam beberapa tahun tanda “X” di tangan menjadi simbol yang pride untuk kaum Straight Edge.

Straight Edge adalah sikap politis, paham dimana anda memilih komitmen untuk hidup sehat, tidak mengkonsumsi drugs, alkohol, tidak merokok dan tidak melakukan seks.

Yang jadi sorotan saya soal komitmen Straight Edge adalah bukan di anti drugs/alkohol dan anti rokoknya, tapi di permasalahan seks. Masa iya kultur barat yang notabenenya sangat liberal tapi mengumandangkan hal tersebut? Secara harfiah, Straight Edge memang seperti itu. Mungkin dasar ideologi tersebut ada karena  penggalan lirik Minor Threat – Out of Step “I don’t drink, I don’t smoke, I don’t fuck”

Kalau begitu, saya akan kaji penggalan lirik sehat tersebut dengan akal sehat saya.

I don’t drink: Saya tidak mau minum-minuman beralkohol.

I don’t Smoke: Saya tidak mau merokok.

I don’t fuck: Saya tidak melakukan seks! Eh, tapi..

Berpacu dalam konteks Anti-Promiscuity yang dalam benak kita pasti terpikir hipokrasi dan irrasional. Karena pada kenyataannya ternyata Anti-Free Sex pada Straight Edge menurut saya adalah satu-satunya self rule yang “bisa dikondisikan”. Dari pengakuan temen-temen Straight Edge yang saya kenal, ada yang tidak melakukannya sama sekali sampai nikah, ada yang melakukannya hanya sama pasangannya saja, dan ada juga yang melakukan casual-sex atas dasar suka sama suka. Well, seks itu pilihan. Pilihan yang susah untuk ditolak.

Di Indonesia, ideologi Straight Edge dimulai pada awal tahun 90an, dimana band-band Straight Edge bermunculan seperti Straight Answer, Thinking Straight (Jakarta), Blind To See (Bandung) dan Violent Order (Malang). Pengaplikasian Straight Edge di Indonesia sedikit banyaknya dipengaruhi oleh faktor agama yang kental akan pelarangan serupa dan dikembalikan lagi pada kontrol individu masing-masing.

Pada tahun 2002 saya sendiri pernah bermain drum untuk salah satu band Straight Edge di Jakarta, pada tahun 2006 saya memutuskan untuk keluar dari band tersebut karena pada akhirnya saya merasa tidak nyaman. Di panggung mereka selalu bersuara tentang Straight Edge, sedangkan saya di belakang drum dalam keadaan mabuk :p

Straight Edge di Indonesia sekarang ini semakin banyak jumlahnya, mereka tidak berkubu dan tidak bergaul secara eksklusif. Fenomena aneh dan lucu yang terjadi di Indonesia saat ini adalah Straight Edge seringkali disangka brand/merk clothing, dengan banyaknya pertanyaan “beli merch Straight Edge dimana ya?”. Hal ini terjadi karena kurangnya edukasi atau memang pada dasarnya orang tersebut nyaman di fase poser, tidak mau mencari tahu arti dari filosofi Straight Edge itu sendiri.

Bersuara tentang hal yang anda yakini itu sah-sah aja, asal fanatisme anda tidak berlebihan bahkan menganggap orang lain yang tidak sepaham dengan anda adalah musuh. Seperti sekelompok Straight Edge militan di Boston yang menamakan diri mereka FSU (Friends Stand United), mereka memukuli orang-orang yang mabuk, merokok atau mengeroyok orang yang habis pulang party dari night club. Kemudian pada akhirnya FSU ini sendiri malah dibenci di  skena Straight Edge itu sendiri. “Friends Stand United turned out to be Fuck Shit Up

Berlebihan tidak sih ketika ada sekelompok anak Hardcore/punk yang berbicara tentang hidup sober? Mereka sok suci? Atau merasa orang yang paling bener? Jawabannya adalah tergantung. Kalau soal band Straight Edge yang membuat lirik lagu dengan menyuarakan hidup sober atau memakai kaos bertuliskan “Smoking Isn’t Cool Anymore” tapi mereka tetap menghormati kawan-kawannya yang bukan Straight Edge, itu bagus. Akan berlebihan ketika mulai melakukan tindakan-tindakan disrespect seperti yang dilakukan kelompok FSU di Boston. Intinya adalah menghargai satu sama lain.

Saya sendiri salut sama orang yang punya komitmen dan menjalani komitmennya itu sampai saat ini. Karena menurut saya, komitmen itu tidak sekedar komat-kamit, tapi harus komit.

Gofar Hilman

Artikel ini bisa dilihat di majalah Esquire edisi Maret 2014

I Love Chrisye

Pertamakalinya bikin Soundcloud, bukan merekam suara gue yang ngebass om-om ini, tapi malah bikin mixtape lagu Indonesia 80-90an. Mixtape yang diberi judul IndoDanceCore berisikan: Depdikbud by One Man Karaoke - SKJ94, Poppy Soeprapto-Tari Kejang, Trio Libels – Gadis, Tom and Jerry - Sepatu Roda (Disco Anak Anak 80), Denny Malik - Jalan Sore, Eza Yayang Ft Agnes Monica – Yess, Fajar Bahari – Gimbot, Hari Mukti – Lintas Melawai, Ikang Fawzy - Catatan Si Boy dan Atiek CB – Terserah Boy. Lagu-lagu tersebut mengisi masa kecil gue dengan indahnya, seindah nama Asmirandah di buku nikah.

Memang, lagu-lagu 80-90an gak ada matinya. Transformasi musik konvensional ke musik yang modern. Beat-beat 8bit hasil organ tunggal yang bikin kami merasa paling kece ketika bersepatu roda di Lipstick Cafe Melawai. Daftar lagu yang wajib ada di setiap device yang gue punya. Dari semua musik ngebeat yang dinyanyikan musisi-musisi Indonesia, pastilah bikin kita ber-ajojing, meskipun penyanyinya gak ajojing. Semisal (alm) Chrisye. Coba dengar album Resesi, kita semua pasti bertanya kenapa dengan musik yang ngebeat gitu tapi kok penyanyinya gak ajojing? Ternyata itu ciri khasnya.

Ciri khas yang membuat namanya semakin melambung dan menjadikan dia sebagai salah satu musisi legendaris. Gue pribadi gak ngefans-ngefans amat sama beliau. Tapi ada satu cerita yang bikin gue bangga sama diri gue dan mendadak ngefans.

Suatu hari gue pergi ke Blok M Mall sama saudara-saudara gue. Lagi jalan santai tiba-tiba kami melihat sosok yang kami kenal. “Eh, itu kaya artis deh?” kata gue. “Bener! Itu penyanyi kalem, siapa-siapa namanya?” kata saudara gue. Beliau lewat depan kami sambil senyum, dan kami masih berfikir siapa nama artis itu. “OH CHRISYE!” jawab gue dengan semangat. Gue mendadak ingat karena ada satu temen gue yang dipanggil Chrisye, akronim dari Chriting Syebel (Baca: keriting sebel)

Dengan situasi artis lewat depan kami, gak mungkin dong kami lewatin begitu aja. Kebetulan saudara gue bawa tustel (tustel yang bukan hadiah pernikahan dan kebetulan saudara gue gak pernah marah-marah di Instagram), sesegera mungkin kami berlari menuju Chrisye. Tapi, Chrisye sudah menghilang, tuhkan kurang ‘gercep’, kelamaan nyari tau nama, sih!

Berjalan cepat celingak-celinguk kaya orang lagi nyari kontrakan, kami pun hampir putus asa. Berdiam sejenak sambil memandang sekeliling. Gue senderan di tiang pembatas mall, melihat ke bawah dan tersenyum lebar “Cuy, Chrisye di bawah tuh, cuy!” berseru sambil menunjuk ke arah bawah. Berlarilah kami menuju artis buruan kami.

Sambil berlari, gue teriak “Mas Chrisye, tungguuuu!”, beliau pun terhenti dan melihat ke arah kami sambil berkata, “Ada apa ya?”. Gue pun tersenyum dengan sumringahnya lalu bilang “hehe, gini mas, saudara saya kan bawa tustel, kami tuh pengen…”, belum selesai ngomong beliau langsung merangkul pundak kami dan dengan senyuman humble plus aura artis yang luar biasa tersebut beliau pun bilang “Oooh, mau foto? Bilang dong dari tadi”

“Hehe, sebenernya sih emang mau foto mas, tapi mas, kami tuh maunya mas Chrisye yang fotoin kami, hehe”

Dengan ekspresi bingung, mas Chrisye lalu fotoin kami pake tustel saudara gue. Kami pun bersorak bangga dan bisa mamerin foto hasil jepretan mas Chrisye, yeaayyy!

Mas Chrisye, I Love You!

Gofar Hilman

 Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 04

Sakitnya Sebuah Seni

SMP, awal mula mengenal musik punk/hardcore. Mulai ngeband dan menemukan idola ketika melihat foto-foto Henry Rollins (Black flag), Wattie Buchan (The Exploited), Mike Ness (Social Distortion) sampai Lars Frederiksen (Rancid). Sikap ngefans gue mengerucut kepada tato mereka. Ngeband bawain punk/hardcore bertato pula merupakan standarisasi “cool” oleh banyak remaja seusia gue pada saat itu. Kepengen banget punya tato, tapi apa daya, masih sekolah.

Ketika lulus SMA, satu kalimat yang ada di otak gue adalah “Yes, bisa bikin tato!”, gue pun mencari orang yang bisa bikin tato, lalu ada teman yang ngenalin gue sama tukang tato (atau bahasa kerennya tattoo artist). Tukang tato ini bernama mas Citos (gak ada hubungannya sama nama mall, lagipula waktu itu mall tersebut belum ada), pemuda kurus, berambut gondrong, badan penuh tato yang berasal dari Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.  Dengan bayaran nasi bungkus dan sebotol vodka gepeng, kita pun sepakat untuk merajah badan di rumah gue.

Sesampainya di rumah gue, mas Citos langsung menyiapkan peralatan tato. Mesin tato pada saat itu belum canggih seperti mesin tato yang menggunakan sistem koil sekarang ini. Saat itu mas Citos memakai mesin tato rakitan dengan menggunakan longsongan pulpen, jarum jahit, benang, dan dinamo Tamiya. Mas Citos pun mulai menenggak vodka yang gue kasih, timbul kekhawatiran dalam diri dan gue pun memberanikan untuk bertanya “Mas, itu beneran gapapa nato sambil minum alkohol?” mas Citos pun menjawab “aku sih enggak apa-apa, kalo kamu baru gak boleh, kamu kan ditato”

Gue saat itu baru tau kalo kita mau tato kita gak boleh mabuk, karena ketika mabuk, jantung manusia akan memompa lebih cepat, akibatnya jika ditato, akan mengeluarkan darah banyak/bleeding. Dan kita bakal ngerasa sakit banget (meskipun mabuk), dan hasil tato gak akan bagus/terang, karena tinta tato telah bercampur dengan darah.

Oke, yang ditato kan gak boleh mabuk, nah kalo yang nato? Meskipun mas Citos bilang enggak apa-apa, tapi Hell to the oooo, hellooooo ya tetep aja gue khawatir!

Dan gue iya-iya aja sambil pasrah.

Berbekal rasa deg-degan yang teramat sangat gue pun memulai tato perdana gue. Tengkorak menjadi pilihan design gue. Designnya udah gue siapin sejak lama, awalnya sih mau tato dari bahu kiri sampai membulat di dada kiri kaya Yakuza-Yakuza gitu, tapi enggak tau kenapa ketika gue merem dan memulai untuk ditato, perasaan ini mulai gak enak. Dan bener, mas Citos mulai tato di dada kanan, “Waduh! Salah mas, harusnya mulai di dada kiri!”, mas Citos pun menjawab “Wah iya, aku lupa toh mas Gofar”. Walah, gimana ini? Yaudalah lanjut aja, tanggung. Dan akhirnya memutuskan gambar tengkorak melintang dari dada kanan ke kiri. Sirna sudah harapan untuk punya tato model Yakuza.

Tato dimulai jam 11 malam, sentuhan jarum pertama kali dikulit begitu sensasional, dengan menggigit bibir dan memejamkan mata, gue pun mencoba beradaptasi dengan sakit, tapi dengan mengatur nafas rasa sakit itu bisa dinikmati. 15 menit kemudian, mas Citos menghentikan tato karena mesin mati, gue tanya “kenapa mas?”, mas Citos jawab “waduh, mas, mesinnya mati, sebentar aku solder dulu yak”. Mesin tato pun kembali nyala, lalu lanjut dan 15 menit kemudian mati lagi, disolder lagi dan mati lagi, begitu seterusnya.

Dan  perasaan ini tambah enggak enak.

Dengan siklus mesin mati terus menerus seperti itu, bayangin coba dada lagi bengkak dihajar jarum lagi, lagi dan lagi. Jam 7 pagi gue memutuskan untuk break, karena udah gak kuat dan badan sudah meriang kesakitan. Lalu gue makan nasi uduk, minum kopi dan istirahat selama sejam. Dengan keberanian dan rasa kepalang tanggung gue pun melanjutkan tato tersebut.

Tato selesai jam 11 siang, tepat 12 jam dada ini dihajar jarum, akhirnya! Dengan rasa bangga dan terharu karena sudah melewati ujian ini gue pun berkaca, lalu dikaca melihat dada gue yang bulky bukan karena ngegym tapi karena bengkak tato.

Penderitaan berakhir. Lumayan puas akan hasilnya meskipun dengan memakai alat sederhana plus tukang tato yang mabuk.

Fyi aja, kalo ditato dengan alat canggih, dengan bermesin koil dan jumlah jarum 7 sampai 15, yang 12 jam mungkin bisa cuma 3-4 jam dan rasanya enggak sesakit seperti yang gue alamin. Beruntunglah kalian yang ditato memakai alat canggih seperti sekarang ini, enggak merasakan mesin rakitan dengan jarum 1 pula.

Dengan semua penderitaan pada tato perdana, apakah gue kapok? Enggak, buktinya sekarang gambar di badan gue sudah menjalar sampai mendekati pergelangan tangan.

Karena tato itu ibarat jatuh cinta dengan seorang player, sakit tapi bikin nagih.

 Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi 03

LAWLESS JAKARTA FOR ALSEACE 2014

Lawless Jakarta untuk pertama kalinya akan berpartisipasi sebagai pengisi acara, tidak sekedar buka stand atau ikut serta pameran, di sebuah pensi (pentas seni) yang diadakan oleh Al Azhar, BSD, bertajuk Alseace 2014. Sebuah sekolah nekad yang ingin tampil beda dan terdepan haha. Mantap!

image

Saat ini crew LJMC sedang meng-kustom serangkaian aktivitas untuk diadakan di venue. Sampai saat ini kami telah merencanakan beberapa aktivitas berikut:

RIDING
Riding kecil di daerah BSD dan sekitarnya. Start jam 9 atau 10 pagi dari sekolah Al Azhar, BSD. Waktu dan rute yang pasti akan kami informasikan nanti. Riding terbuka untuk semua jenis motor kustom, motor klasik, atau motor baru yang bergaya klasik (contoh: Vespa LX, Triumph Bonneville, Kawasaki Estrella, dan lain sebagainya. Kebayang kan?).

MERCHANDISE BOOTH
Dapatkan berbagai merchandise Lawless Jakarta tanpa harus jauh-jauh berkendara ke Kemang. Kami akan membuka dua booth digandeng. Pastikan kamu membawa uang lebih.

KUSTOM SHOW
Kami akan membawa beberapa motor kustom dan sebuah mobil Volksrod yang sempat memenangkan beberapa penghargaan di sebuah kontes modifikasi di Jakarta untuk dipamerkan di venue beserta beberapa motor kustom lain yang akan dikurasi oleh teman-teman dari Alseace 2014.

MINI TALKSHOW
Crew LJMC akan mengadakan sesi bicara interaktif kecil di venue. Kami akan sharing banyak hal yang menginspirasi dan dijalankan oleh kami selama ini. Ada beberapa topik yang kami recanakan untuk bahas yang mungkin bisa berguna untuk kehidupan kamu sehari-hari. Talkshow ini terbuka bagi siapa saja yang ingin mengikutinya dan tanpa ada biaya tambahan selain biaya tiket masuk.

Sampai bertemu di Alseace 2014. Come and have a great time with us all. FTW!

Untuk videonya bisa dilihat di http://youtu.be/_-y8ctTNRu0

Text by Sam Bram

Video concept by Lawless Jakarta.

Shot by Roni Pramaditia, Fahmi, Sam Bram.
Edited by Sam Bram.
Music: The Clash “Should I Stay Or Should I Go”

Reblog from http://lawlessjakarta.com/blog/lawless-jakarta-for-alseace-2014.html

AKU CINTA KAMU - Di Bioskop 6 Maret 2014
Produksi : Starvision | Upbeat Publishing | Indie Picture
Sutradara : Acha Septriasa, Fajar Nugros, Fajar Bustomi, Piyu
Pemain : Acha Septriasa, Rio Dewanto, Kim Kurniawan, Eriska Rein, Pevita Pearce, Giorgino Abraham, Dimas Anggara, Manohara Odelia, Fanny Fabriana, Nina Tamam, Piyu, Martina Tesela, Mathias Ibo, Soleh Solihun, Dwi Putrantiwi, Gofar Hilman, Joe P Project, Lukman Sardi, Boy Hamzah, Dina Syafira, dll

Romantika Diamor

Juara bertahan trending topic di twitter ketika bulan Februari  masih jatuh kepada Valentine. Dimana orang-orang sibuk membicarakan indahnya selebrasi hari cinta. Di timeline bertebaran kahlil Gibran dadakan, upload foto di socmed Fine Dining dengan pasangan, cokelat bentuk hati, bunga pesanan yang dirangkai terburu-buru, atau sekedar ngasih mixtape lagu cinta dengan Martina McBride – My Valentine di garda terdepan. Semua begitu indah.

Selain ngomongin indahnya hari cinta, di timeline ada juga kubu kontra yang beranggotakan jomblo lawas, individu antisocial dengan jempol hiperaktif dimana argo ngetwitnya sudah sampai 200ribuan dan partisan anti kultur barat yang mengait-ngaitkan Valentine dengan konspirasi Wahyudi mata satu, dengan Djaja Mihardja sebagai bapak Illuminati. Terlalu sibuk nyinyirin Valentine dengan kata “Fucklentine”, kiasan kuno jaman WR Supratman masih ngulik lagu Indonesia Raya.

Dan gue ada di kubu yang biasa-biasa saja.

Karena pada dasarnya gue adalah orang yang enggak terlalu ngerti perihal romantisme. Pernah seketika lagi ngegebet cewek, si cewek email-in gue puisi berbahasa Inggris (yang sepertinya) romantis dan gue reply dengan kalimat “itu artinya apaan, sih?”, pernah juga dulu ngajak pasangan gue merayakan hari Valentine, dinner di restoran, restoran cepat saji. Iya, gue enggak romantis.

Apa sih barometer romantis? Kalau memang ngasih cokelat ketika hari Valentine itu adalah salah satunya, ok fine. Gue lakuin! Sebenarnya udah gue lakuin sih (pada akhirnya), satu kali. Begini ceritanya.

Alkisah 14 Februari 2013. Dimana saat itu gue masih pacaran sama seorang cewek yang lumayan bisa bikin gue jatuh hati. Awalnya kita berdua udah ngomongin soal Valentine dan sepakat untuk enggak ngelakuin apa-apa, karena dia tipe yang enggak terlalu musingin soal Valentine. Selamatlah gue.

Hari dimana gue berangkat untuk melakukan rutinitas weekdays, siaran di HardrockFM. Sesampainya di kantor, banyak anak kantor yang dapat hadiah cokelat dari pasangan atau gebetannya. Gue pun enggak terlalu mikirin hal itu dan siaran seperti biasa. Di tengah-tengah siaran, pasangan gue nelfon dan ngajak gue untuk dinner, dia mau jemput gue sehabis siaran. Terbesit dalam hati, “ini pasti mau ngerayain Valentine. Duh, apa gue harus ngasih sesuatu seperti halnya yang temen-temen kantor lakuin? Bunga atau cokelat? Tapi ya tapi, gue belum pernah ngasih-ngasih kaya gitu ke cewek. Gimana dong?”

Akhirnya gue memutuskan untuk memberikan dia sesuatu, cokelat. Selesai siaran gue langsung ke bawah untuk beli cokelat. Di belakang gedung Sarinah ada toko kue dan cokelat andalan kebanyakan orang. Awalnya mau ke toko itu untuk beli, tapi tiba-tiba kepikiran, pasangan gue mungkin sama mantan-mantannya pernah dapet cokelat dari toko kue mainstream ini. Dengan berbekal gengsi dan api asmara gue pun membeli cokelat yang lain.

Pasangan gue nelfon, ternyata dia udah sampai di parkiran. Tenang, cokelat udah di tangan. Mudah-mudahan dia suka. Lalu gue samperin dia di parkiran, masuk ke dalam mobilnya dengan wajah sumringah.

Di dalam mobilnya yang belum beranjak dari parkiran, gue pun menatap matanya, memegang tangannya lalu berkata “Aku mau nyoba romantis. Nih” sambil menyodorkan cokelat yang gue beli tadi. Seketika dia terdiam, lalu tertawa dan memeluk gue dengan erat.

Ternyata berhasil, dia senang! Dia bilang kalo cokelat yang gue kasih sangatlah romantis dan enggak biasa. Kenapa bisa romantis dan enggak biasa? Karena gue memberikan dia cokelat Valentine yang enggak akan dia lupakan seumur hidup, yaitu cokelat tabur untuk roti.

Gofar Hilman

Tulisan ini juga bisa dilihat di Free! Magazine edisi Februari

About

PERGIJAUH Follow Me at Twitter @pergijauh

Following

Top